oleh

170 KK Warga Deli Serdang,Minta Presiden Copot Dirut dan Bubarkan PTPN II.

Sumut,Labusel,IBI.Sebanyak 170 Org kelompok TANI SPSB dan STMB memulai perjalan nya dari Deli Serdang Sumatra Utara menuju Jakarta untuk mencari dan Menuntut Keadilan Kepada kelapa negara Presiden republik Indonesia Ir Joko Widodo dan para menteri juga DPR RI.

AdaSebanyak 170 warga deli serdang yang tergabung di kelompok tani Serikat Petani Simalingkar Bersatu(SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu(STMB)dari Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatra Utara yang sudah melakukan long march ( jalan kaki )dari Kabupaten Deli Serdang mulai tanggal 25 juni 2020 menuju jakarta,saat ini minggu 5/7/2020 tiba di kotapinang labuhambatu selatan.

” Rela Jalan Kaki Demi Mencari Keadilan”.

Berjalan Kaki ( long march ) di Lakukan warga kelompok Tani tersebut menuju jakarta sejak tanggal 25 juli 2020, merupakan bentuk wujud perjuangan serta mempertahankan hak mereka (petani ) minggu 5/7/2020 mereka telah tiba di kabupaten labuhanbatu Selatan .
Pada perjalanan panjang petani ini melelahkan,di kotapinang labusel para petani menyempatkan istrahat di gedung SBBK bukit kota Pinang,menurut petani yang dapat di terima,mereka lakukan istirahat,sambil menunggu agenda vidio virtual join zom meeting dengan wakil menteri (Wamen )mentri Agraria republik Indonesia Senin 6/7/2020 pukul 16,00 wib.

” Dewan Pembina Utama : Petani berjuang tanpa pamrih demi masa depan anak -anak mereka”.

Aris Wiyono, Selaku Dewan Pembina kelompok Tani SPSB dan STMB Saat di Wawancarai Jurnalis mengatakan long march (maraton )atau melakukan perjalanan panjang menuju ke jakarta tujuan nya menuntut keadilan setelah pemerintah Provinsi Sumatera utara dan Kabupaten Deli Serdang tidak sanggup tidak menerima pengaduan warga petani ini,untuk menyelesaikan konflik lahan masyarakat kelompok tani Serikat Petani Bersatu(SPSB)dan Serikat TANI Masyarakat Bersatu( STMB)sejak tahun 1971 hingga sekarang tidak ada.wujud dan hasilnya,”Tuturnya.

Lanjutnya,Perjalanan kaki, yang di lakukan oleh kelompok tani SPSB dan STMB selama 12 hari ini mendapat sambutan positif dari berbagai masyarakat yang warga petani yang kami lintasi dan pemerintah Daerah kabupaten/kota yang ada di lintasan jalinsum Sumatra Utara,misalnya Pemkab Labusel menerima dan memberikan fasilitas untuk istrahat bagi kami petani di rencana besok pagi selasa 7/7/2020 di rencanakan kami melanjutkan perjalanan,,”imbuhnya.

Masih oleh nya,sebanyak 854 ha milik kelompok Tani SPSB,600 ha milik STMB sejak tahun 1951 masih di lindungi undang undang darurat no 8 1954 awal lahan tersebut di kuasai belanda,dan setelah belanda hengkang dari Indonesia,pada tahun 1961 kelompok tani SPSB dan STMB menguasai dan memiliki lahan tersebut dan di lengkapi dengan surat SK lander From dari Gubernur 1984.,”terang nya.

Lebih lanjut,berbagai upaya yang sudah di lakukan untuk menyelesaikan konflik lahan petani tersebut yang di serobot paksa oleh perusahaan perkebunan (BUMN ) PTPN II,setelah di serobot PTPN II ,petani berupaya mengadukan dan mencari solusi dan keadilan kepada pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang,dan Provinsi Sumatra Utara, namun hal ini tidak membuahkan hasil dengan alasan dari Pemerintah Daerah dan Provinsi,menjawab ringan saja, ” saat itu masalah ini sudah wewenang dan Regulasi pemerintah Pusat,”Sebut pejabat tersebut (menirukan ),Ironisnya,Penyerobotan atau penguasaan paksa lahan Petani Serikat Tani Mencirim Bersatu yang di lakukan oleh PTPN II yang mendapat pengawalan ketat dari ratusan personil TNI-POLRI,serta berupaya menghadang dan mengusir masyarakat yang terhimpun kelompok Tani,”STMB dari lahan mereka sendiri ironis,sebelum musibah bencana covid 19 bulan maret 2020, di tahun 2017 Pihak PTPN 2, melakukan hal yang sama telah merebut paksa lahan Kelompok tani SPSB(Serikat Petani Simalingkar Bersatu) mereka sangat kejam (anarkis )sekali rumah (tempat tinggal ) para petani dan seluruh tanaman di hancurkan di rusak oleh suruhan pihak perusahaan PTPN 2,tanaman tersebut berupa buah buahan seperti rambutan,durian dan jagung dll,”sehingga,masyarakat kelompok tani SPSB yang berjumlah 810 Kepala keluarga,kehilangan mata pencarian secara permanen sedangkan kelompok tani STMB sebanyak 450 kepala keluarga kehilangan lumbung pangan dan tempat tinggal secara permanen,dan saat ini mereka semua menumpang kepada sanak saudara mereka masing, tanpa domilisi yang jelas,sebut dewan Pembina kelompok tani tersebut ,”Sebut Aris wiyono,

Masih,”ARIS”seluruh kelompok tani SPSB dan STMB,akan menuntut dan.meminta agar bapak
Presiden Ir joko Widodo Segera bubarkan PTPN 2,di harap agar pejabat Negara Hadir dalam Penyelesaian Konflik Agraria di Kabupaten Deli Serdang,serta harapan kami agar menyerahkan dan memberikan Tanah dan Sertifikat Kepada Petani Simalingkar dan Mencirim sesuai hak petani,di harapkan kepada kapolri dapat memerintahkan dan menghentikan Kriminalisasi terhadap Petani.,”.
Kita paham PTPN 2 iadalah BUMN adalah perusahaan negara jangan seperti sosok monster dan lawan yang menakutkan bagi petani rakyat ini,selama ini telah mengancam kehidupan dan telah menghancurkan kehidupan dan masa depan warga masyarakat petani khususnya kelompok TANI SPSB dan SPMB, deli serdang oleh sebab itu,” ujar Aris Wiyono,”meminta Kepada Presiden Joko Widodo,jika hal ini tidak dapat lebih baik dan dapat mensejahterakan masyarakat Indonesia (setempat )sesuai UUD 1946,harapan kami lebih baik di bubarkan PTPN 2 segera karena tidak ada manfaat bagi warga setempat bahkan menjadi penjajah di era ini,apa inintujuan berbangsa bertanah air,di minta agar perusahaan ini dan pejabat oknum -onkum yang terlibat agar segera di adili aktor aktor intelektual yang ikut terlibat di dalamnya,”.

Sementara itu,”Sulaiman”selaku korlap kelompok Tani SPSB dan STMB, mengucapkan terimah kasih kepada pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan khususnya kepada Bupati H.Wildan Aswan Tanjung SH,MM dan Wakil Bupati kholil Jufri Harahap,yang telah menerima serta memberikan fasilitas kepada kami warga kelompok tani SPSB dan STMB dari Kabupaten Deli Serdang untuk istrahat,sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Hal yang sama di rombongan warga ini,,”Wagiran” (76 ) Sura br Sembiring (63 ) ,Jasa Surbakti ( 70 ) ,selaku pelaku sejarah konflik lahan kelompok Tani SPSB,dan STMB yang masih hidup kepada wartawan, Senin 6/7/2020 di gedung SBBK bukit kota pinang Labuhanbatu Selatan,ikut long march (jalan marathon ) ke jakarta untuk mencari keadilan karena niat dan tidak ada bujuk rayu,provikasi dari pihak mana pun maupun indikasi di bayar,murni perjuangan petani.

Harapan,dari Sejumlah Saksi Pelaku Sejarah,”Kakek Wagiran Atmaja,” 76 tahun Jasa Surbakti,umur 70 tahun,Sura br Sembiring 63 tahun kepada Bapak Presiden Joko widodo agar memberikan keadilan kepada Rakyat kelompok TANI SPSB dan STMB,sejak lahan kami di serobot di kuasai oleh Perusahaan PTPN 2,akibatnya kami petani,anak cucu kami sudah terancam melarat dan miskin keluarga kami (petani )hidup tidak karuan memprihatinkan (menumpang ) sana sini ke rumah famili dan sanak saudara masing masing,akibat tindakan perusahaan PTPN II dan antek -anteknya, sebab rumah kami sudah tidak ada sudah di hancurkan ( di robohkan )dan begitu juga lahan pangan kami sudah hancur rusak di ratakan ( di robohkan pakai alat berat )permanen,Pak Presiden yang saya hormati, sejak era zaman Belanda orang tua ( kakek dan opung ) kami sudah tinggal di lahan tersebut menguasai lahan pertanian yang kami kuasai ini,artinya lahan ini adalah lahan warisan keturunan,sebelum perusahaan PTPN II hadir ada di sana,anehkan..!!,bapak presiden,apakah ini tujuan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini,pancasila sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia..??atau menjajah bangsa sendiri melalui perusahaan PTPN II ini…?? ,jadi tolong,kami bukan mau cari kekayaan,tapi hanya mau hidup nyaman ujar petani,” (Sulaiman malaka ).

Pengirim berita : Sulaiman malaka

Komentar

News Feed