oleh

Binkom AGHT cegah konflik sosial di wilayah KOREM 142/tatag.

Investigasi Bhayangkara Indonesia, com. Mamuju media restorasitv Dalam kegiatan ini Brigjen TNI. Firman Dahlan, S.I.P (Danrem 142/Tatag) yang di wakili oleh Bapak Dandim 1418/Mamuju menyampaikan Permohonan maaf dari Bapak Danrem 142/Tatag yang tidak dapat hadir dalam kegaiatan binkom cegah konflik sosial ini.

karena Bapak Danrem mempersiapkan mengikuti kegiatan peringatan HUT TNI ke-75 secara virtual di Korem 142/Tatag.

Forum ini merupakan ajang silaturahmi buat semua peserta yang berasal dari perwakailan dari tiap kabupaten yang ada di Prov. Sulbar.

Keamanan nasional merupakan tanggung jawab kita semua sehingga perlunya menjalin komunikasi dengan baik terhadap apalagi saat ini negara kita sedang menghadapi masa pandemi.

Konflik sosial di zaman sekarang bisa timbul akibat penyalahgunaan medsos dunia maya apalagi tahun ini akan di laksanakan Pilkada serentak sehingga konflik sosial bisa saja terjadi.

Di perlukan kerjasama dengan baik antara aparat keamanan dengan seluruh lapisan masyarakat untuk menangkal segala bentuk ancaman.

Kami harapkan melalui penyuluhan binkom AGHT cegah konflik sosial dapat memberikan gambaran dan manfaat.

Kami menghimbau agar seluruh masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan di manapun berada.

Sambutan yang ke dua di tempat yang sama Asintel Kasad yang di wakili oleh Kolonel Kav. Mukmin., S.IP (Pamen Ahli Bid. Idiologi Politik Pusintelad) menyampaikan Permohonan Maaf atas ketidakhadiran Bapak Asintel Kasad yang tidak dapat hadir dalam kegiatan binkom yang di laksanakan di wilayah Korem 142/Tatag.

Sejak Proklamasi Kemerdekaan
tanggal 17 Agustus 1945 hingga sekarang, keberlangsungan penyelenggaraan pembangunan nasional tidak pernah bebas dari ancaman keamanan.

Berbagai gejolak yang membahayakan keamanan nasional, mulai dari pemberontakan, separatisme, terorisme, kerusuhan hingga terjadi konflik sosial menjadi pengalaman buruk yang mengakibatkan terganggunya stabilitas keamanan nasional.

Transisis demokrasi dalam tatanan dunia yang semakin terbuka mengakibatkan makin cepatnya dinamika sosial termasuk faktor intervensi asing sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan konflik vertikal maupun horizontal.

Upaya untuk mencegah konflik sosial merupakan langkah strategis yang perlu di lakukan pemerintah agar tidak meluas sehingga stabilitas keamanan tetap kondusif.

Beberapa poin penekanan yang harus di pedomani ialah.
a. Marilah segenap komponen bangsa selalu bekerjasama menjaga persatuan bangsa yang sedang di landa berbagai permasalahan.

b. Segera laporkan kepada yang berwanang apabila terdapat hal-hal yang mengarah pada potensi konflik.

c. Ikuti kegiatan dengan motivasi dan semangat tinggi, sehingga informasi dan pengetahuan yang di berikan dapat di pahami dan di pedomani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kombes Pol. Heri Susanto (Dir Intelkam Polda Sulbar) juga hadir di acara ini dan menyampaikan.

Konflik ada 2 jenis yaitu konflik individu dan konflik kelompok.
Potensi konflik di Sulbar masih kondusif.

Potensi konflik di Prov. Sulbar pada umumnya di picu oleh kasus penguasaan lahan.

Masih kita sama-sama memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat dengan bijaksana agar tidak mudah terprovokasi yang mengarah kepada konflik sosial apalagi situasi saat ini pemerintah sedang menerapakan aturan untuk mematuhi protokol kesehatan.

Cara mencegah konflik yaitu individu harus mau sadar diri / intropeksi diri.

Konflik sosial dapat terjadi akibat persaingan hidup dan kebutuhan hidup yang tak terpenuhi.

Kami menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat apabila ada permasalahan yang timbul di lingkungan agar di selesaikan di komunikasikan dengan cara kekeluargaan secara baik agar terhindari dari konflik yang lebih besar.

Setiap permasalahan yang tidak bisa di atasi jangan main hakim sendiri karna di lingkungan kita ada TNI, dan Polri dan instansi pemerintahan untuk berkomunikasi dengan baik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Komentar

News Feed