oleh

Diduga Lakukan Penipuan, Ketua LSM Buser Jawa Tengah Dilaporkan ke Polisi Resort Kudus

SEMARANG – investigasi bhayangkara Indonesia com Karena diduga melakukan penipuan dalam proses perekrutan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) atau CASN (Calon Aparatur Sipil Negara), WSG, yang juga sebagai Ketua LSM Buser Jawa Tengah dilaporkan polisi resort Kudus oleh salah satu korban penipuan, warga Kabupaten Pati.

Laporan pengaduan tersebut, dilayangkan oleh pengacara AA & Partners, yang beralamat di jalan Jeruk Raya No 1, Kota Semarang ke Polres Kudus pada Kamis, 5 Agustus 2021 lalu, setelah menerima kuasa khusus dari kliennya Wiwik Wulandari (28) warga warga Desa Pulorejo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

“Laporan pengaduan kami layangkan ke Polres Kudus, karena lokasi kejadian penyerahan uang korban kepada terduga pelaku penipuan tersebut, terjadi di wailayah hukum Polres Kudus,” jelas Abdul Majid, SH, MH, pengacara yang menerima kuasa dari korban kepada awak media di kantornya, jalan Jeruk Raya No 1, Lamper Lor, Kota Semarang, Kamis (16/9/2021)

Korban sebenarnya ada sekitar 18 orang, lanjut Majid, namun untuk saat ini yang resmi membuat laporan kepada kepolisian baru satu orang, yaitu kliennya tersebut.

“Total uang yang diserahkan korban kepada teradu, yaitu W S G kurang lebih sebanyak Rp 250 juta, yang diserahkan korban secara bertahap sebanyak empat kali,” lanjutnya.

Awal penyerahan uang, ujar Majid, diserahkan korban sebanyak Rp 25 juta pada 9 September 2018 lalu, kemudian tahap kedua pada 13 Oktober 2018 sebesar Rp 100 juta, di Caffe Banaran, Kudus. Kemudian awal November 2018, korban menyerahkan kembali uang sebesar Rp 110 juta kepada WSG di Caffe Banaran Kudus juga. Tahap keempat, di bulan yang sama, November 2018, korban kembali menyerahkan uang kepada teradu sebesar Rp 15 juta di rumah korban.

Modus yang digunakan W S G, yang juga Ketua LSM Buser Jawa Tengah itu, menurut Majid adalah dengan menjanjikan korban untuk dapat diangkat menjadi PNS atau ASN mengisi formasi Bidan dengan dua pilihan harga, yaitu sebesar Rp 150 juta dengan jangka waktu pengangkatan selama 1 tahun kemudian. Tapi jika ingin lebih cepat pengangkatannya menjadi PNS/ASN, korban harus menyiapkan anggaran dana sebesar Rp 250 juta.

“Jadi dengan pilihan tersebut, korban memilih untuk yang cepat diangkat sebagai PNS atau ASN dengan menyediakan anggaran kurang lebih sekitar Rp 250 juta,” ungkap Majid.

Dari kasus yang ditangani tersebut, Majid berharap, petugas Aparat Penegak Hukum (APH) dapat segera mengusut tuntas dan dapat menyelesaikan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

Sementara Wiwik Wulandari, korban penipuan menyampaikan, selain menyerahkan uang sebesar Rp 250 juta kepada WSG, Ketua Buser Jawa Tengah untuk mengisi CPNS formasi Bidan, juga menyerahkan uang sebesar Rp 7 juta rupiah, dengan alasan untuk transportasi dan akomodasi pengambilan SK pengangkatan PNS/ASN.

“Jadi, pada sekitar bulan April 2019, untuk pengambilan SK pengangkatan PNS di Jakarta, karena Saya tidak bisa berangkat untuk pengambilan SK Pengangkatan PNS tersebut, maka diwakili Pak WSG dengan meminta lagi uang sebesar Rp 7 juta untuk transportasi dan akomodasinya,” ungkap Wiwik melalui telepon WhatsApp.

Tapi, imbuh Wiwik, SK pengangkatan yang kala itu diserahkan oleh Wahyu Surya Gading di Caffe Banaran, Semarang pada April 2019 lalu tersebut, ternyata palsu dan tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Selain dirinya, menurut Wiwik, ada lagi beberapa korban lainnya yang berasal dari Kabupaten Demak, Kudus, Pekalongan, Kota Semarang, Salatiga dan ada juga dari Yogyakarta.

“Ya kira-kira ada sekitar 18 orang termasuk saya sendiri. Ya rata-rata mereka dijanjikan untuk bisa menjadi PNS atau ASN dengan syarat meyetorkan uang sebesar Rp 300 jutaan,” imbuh Wiwik.

A.S

News Feed