DISKURSUS PEMOLISIAN POLDA PAPUA MENUJU PAPUA YANG DAMAI DAN SEJAHTERA

Papua363 Dilihat

http://Investigasibhayangkara.com

Jayapura – Pada hari Selasa tanggal 15 Februari 2022 bertempat di Aula Suni Hotel & Convention Abepura, telah dilaksanakan kegiatan Diskursus Pemolisian Polda Papua dengan tema “Melalui Diskursus Pemolisian Menuju Papua Yang Damai dan Sejahtera”.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D. Fakhiri. S.I.K dan dihadiri Sekda Provinsi Papua Dr. Ridwan Sumasukun, Bupati Paniai Meki Frits Nawipa, Bupati Mamberamo Raya Jhon Tabo, Bupati Yalimo Ribka Haluk, Rektor Uniyap Didik S.S Mabui, Ketua Umum Pemuda Adat Papua Jan Christian Arebo, Ketua DPRD Kab Pegunungan Bintang Demius T. U. Mabin, Rektor Uncen Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST, MT, Tokoh Agama Pdt. Lipiyus Biniluk S.th, Penulis dan Peneliti Kristin Samah, Dekan FISIP UI Prof. Semiarto Aji, Sekertaris Kompolnas Irjen Pol. Dr. Purn. Beni Mamoto, Peneliti CSIS Prof. J. Kristiadi, pejabat utama Polda Papua, Kapolres Jajaran dan tamu undangan.

Kegiatan diskursus tersebut dibuka dengan tarian Papua dan dilanjutkan dengan doa oleh Pendeta Andrikus Mofu M.Th Ketua Sinode di Tanah Papua. Gubernur Provinsi Papua yang diwakili oleh Sekda Provinsi Papua Dr. Ridwan Sumasukun dalam kesempatannya menyampaikan dalam kegiatan ini sangat baik yang mana semua sudah di maknai dengan Noken ini yang sudah di berikan kepada kita yang merupakaan cerminan kegiatan bahwa saya bangga karena Saya Papua.

Kapolda Papua Irjen Pol. Mathius D. Fakhiri, S.I.K dalam kesempatannya mengatakan, Perkenankanlah dalam kesempatan yang terhormat ini, sebagai Kapolda Papua, saya ingin berbagi pemahaman empirik, dan konsep pemikiran tentang Dinamika Pemolisian di Polda Papua. Hadirin sekalian yang saya mulyakan, Menjaga dan mengawal peradaban di Tanah Papua, Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) mengatakan, nama ‘Papua’ menurut Gus Dur bisa berarti kebanggaan dan membuat orang yang menyandangnya merasa dimanusiakan. Gus Dur mengembalikan harkat-martabat orang Papua dan sekarang Jokowi melanjutkannya, dengan cara membangun Papua agar kesejahteraan masyarakat meningkat.

Presiden Joko Widodo terus meningkatkan pembangunan dengan memberikan bobot pembangunan yang lebih substansial dan harapan baru. Keseriusan Presiden tertuang dalam Inpres No. 9 Tahun 2020 tentang percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Papua Barat. Inpres ini menginstruksikan kepada 43 Kementrian dan Lembaga untuk mengambil langkah-langkah terobosan, terpadu, tepat, fokus dan sinergi sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Instruksi khusus kepada Polri tertuang dalam pasal 34, yaitu; memberikan dukungan pengamanan dan ketertiban, mendukung pelayanan dasar dan membangun komunikasi sosial yang inklusif.

Implementasi pendekatan atau interaksi yang sangat efektif bagi Polda Papua kepada masyarakatnya adalah pendekatan secara humanis atau soft approach policing. Inpres No 9/2020 secara spesifik dijabarkan dalam kebijakan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo yaitu mewujudkan Transformasi Polri yang Presisi (Prediktif, Responsibilitas serta Transparansi berkeadilan). Implementasi dalam pendekatan kesejahteraan atau kemanusiaan (soft approach policing) di Papua melalui konsep “Binmas Noken”.

Binmas merupakan sebuah fungsi di kepolisian yang dipadukan dengan “noken”, sebuah konsep kearifan lokal bermakna kemakmuran, keluhuran dan keagungan (dignity) masyarakat Papua. Damai Cartenz dan Rasaka Cartenz 2022, Tema Presidensi G20 Indonesia tahun ini adalah Recover Together, Recover Stronger. Sesuai agenda World Economic Forum di tahun 2022, “Indonesia berusaha agar Presidensi G20 Tahun 2022 dapat menjawab keresahan dan kecemasan masyarakat dunia dengan menjadi katalis bagi pemulihan ekonomi global yang inklusif”. Forum tersebut fokus pada 3 (tiga) prioritas utama, yaitu pertama; menata Kembali arsitektur kesehatan global agar lebih inklusif dan tanggap terhadap krisis; kedua: optimalisasi teknologi digital untuk transformasi ekonomi yang dampaknya harus dirasakan oleh masyarakat, terutama UMKM; ketiga; transisi energi yang lebih ramah lingkungan. Melalui teknologi, mampu mendorong produksi berbasis ekonomi hijau. Penyelenggaraan G20 di Indonesia menuntut kesiapan dan kesigapan pada aspek keamanan, yang merupakan salah satu menjadi agenda penting. Presiden menegaskan agar stabilitas keamaman dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), salah satunya agar masalah keamanan di Papua tetap kondusif.

Menyikapi agenda tersebut, Polda Papua menggelar 2 (dua) operasi khusus kepolisian yaitu Damai Cartenz 2022 (25 Januari 2022 s/d 25 Juni 2022) dan Rastra Samara Kasih (disingkat: Rasaka) Cartenz 2022 yang akan mulai beroperasi di awal Maret 2022 hingga akhir tahun 2022. Diksi “operasi kepolisian” merupakan kegiatan kepolisian yang ditingkatkan. Operasi Damai Cartenz merupakan transformasi dari Operasi Nemangkawi. Sementara Operasi Rasaka Cartenz dari Bahasa Sansekerta, yaitu “Rasaka (Rasta Samara Kasih) Cartenz”, secara harfiah Rastra: Bangsa, Samara: Penjaga, dan Kasih yang memiliki arti rasa memiliki dan menyayangi, bagaimana memberikan yang terbaik untuk orang lain. Sedangkan Cartenz adalah puncak gunung tertinggi di Indonesia yang berada di Papua.

Secara filosofi Rastra Samara Kasih Cartenz adalah menjaga bangsa dengan kasih di tanah Papua. Sebagaimana dalam firman Tuhan; Yohanes 15:12; “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Karena kami yakin, konsistensi pendekatan kemanusiaan dengan kasih di Papua, merupakan instrumen terbaik untuk dapat mentransformasi konflik dan persoalan menjadi suatu upaya membina damai dalam jangka panjang. Upaya Polri turut mensejehterakan, mencerdaskan dan menyehatkan masyarakat Papua tergelar dengan konsep Binmas Noken pada dua operasi ini telah dilakukan sejak lama. Kapolda Irian Jaya periode 1991-1993, Brigjen Pol (P). Hindarto, menginsiasi konsep Binmas Pioneer (Pelopor), yang esensinya adalah membangun interaksi petugas Polri (Bhabinkamtibmas) dengan memberi contoh (sebagai pioneer) di lingkungan tempatnya bertugas.

Konsep ini terus dikembangkan oleh Kapolda berikutnya Brigjen Pol (P) Drs. Muharsipin. (1995) dengan membangun pusat Latihan keterampilan (Puslatram) Binmas Pioneer di Arso II, sekitar 67 km selatan Kota Jayapura (saat ini menjadi Polres Keerom). Pada tahun 2018, Kapolri Jenderal Polisi Prof. Tito Karnavian, PhD membentuk operasi khusus Nemangkawi di Papua untuk memelihara kondusifitas situasi Kamtibmas dan pemberdayaan masyarakatnya. Operasi ini memadukan unsur penegakan hukum (law enforcement) sekaligus operasi Kepolisian dengan pola humanis (soft approach), dinamakan Binmas Noken.

Binmas Noken di era kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit terus dikembangkan penggelarannya mengedepankan fungsi Binmas (Pembinaan Masyarakat). Konsep Binmas Noken bertumpu pada kearifan lokal (local wisdom) dengan banyak mendengar dan mencoba membangun dari perspektif nilai-nilai yang tumbuh berkembang. Binmas Noken tidak muncul dari gagasan-gagasan cemerlang yang asing, namun berangkat dari kebutuhan dan kemampuan masyarakat Papua. Binmas Noken diimplemeentasikan dengan program-program (jargon) kearifan masyarakat lokal, yaitu; Kasuari (Kesejahteraan Untuk Anak Negeri), Koteka (Komunikasi Tokoh Elit Kamtibmas), Si-ipar ( Polisi Pi-Ajar), Peka (Peduli Kamtibmas), Matoa (Millennial Torang Maju), Papeda (Pemuda Pemudu Cendekia), TIFA (Torang Insan Faham Adat: Madarwis), Keladi Sagu (Kesehatan Lambang Diri-Sehat Guna), Gempita (Gembala Pelita Kamtibmas) dan Pace-Pol.

Keseluruhan program tersebut merupakan fasilitas bagi terwujudnya interaksi Polri dan masyarakat yang bermartabat. Dalam mewujudkan kamtibmas (To win the hearts and mind the people of Papua). Penelitian dan Pengembangan Pengetahuan di Papua, dalam mewujudkan situasi yang aman dan kondusif di Papua, Polri menggunakan dua model pemolisian yaitu Democratic Policing dan Community Policing. Dalam berbagai tulisan dengan kajian akademik, Papua tidak kering dari bahasan tersebut, disamping misteri kekayaan alamnya yang paradox dengan masyarakatnya yang memiliki tingkat kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan dibawah rata-rata nasional, Papua juga memiliki berbagai kekhasan, baik adat istiadat, budaya maupun kepercayaan serta masih kuatnya pengaruh kehidupan tradisional. Tugas dan kewajiban Polri di wilayah Papua memerlukan pendekatan berbeda dengan berbagai wilayah lainnya di Indonesia.

Disadari akan pentingnya pola pendekatan baru tersebut, maka Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Polri terus mengembangkan penelitian dan pengembangan. Selain penting bagi kemajuan suatu perguruan tinggi, juga sangat diperlukan dalam mendukung peradaban, kesejahteraan masyarakat serta kemajuan bangsa dan negara. Dari penelitian dan pengembangan akan mampu mengembangkan pengetahuan, ilmu, teknologi serta meningkatkan kapital suatu komunitas.

Dengan kompleksitas persoalan yang ada di Papua, maka Lembaga Ilmu Kepolisian perlu mendesain kegiatan dan operasi Kepolisian yang tepat sasaran, terukur, berkelanjutan, dan berimplikasi strategis dalam ranah riset di Papua. Posisi Papua’s Enhancement Research Strategic (PERS) merupakan perpaduan empirik dengan logika intelektual sebagai upaya strategis bagi lembaga Pendidikan (khususnya kepolisian), pemerintah (baik nasional dan daerah), serta masyarakat Papua secara umum dalam mewujudkan pembangunan di Papua secara beradab dan bermartabat. Literasi: Jembatan terang Menuju Harapan, Pengembangan masyarakat dan partisipasi merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya yang pada akhirnya dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada masyarakat.

Sasaran akhir dari implementasi operasi ini adalah masyarakat produktif dengan berbagai aktifitas atau dinamika pemenuhan kesejahteraan. Dalam menunjang tugas Pemolisian tersebut, literasi sangat diperlukan. Literasi yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya soal membaca dan menulis, namun juga berkaitan dengan keaksaraan atau bahasa dan berkembang menjadi konsep fungsional pada dasawarsa 1960-an.

Dalam rangka menggelorakan semangat literasi di tubuh Polri, Polda Papua telah menulis dalam beberapa buku tentang konsep pemetaan dan pemecahan masalah di Papua melalui pendekatan humanis, utamanya kegiatan-kegiatan implementasi Pemolisian yang telah dilaksanakan di Papua. Buku – buku tersebut adalah: 1. Biografi Pikiran & Tindakan Mathius D. Fakhiri: Dibalik Kisah Sepatu Sobek Sang Jenderal; 2. Jejak Cinta Untuk Papua; 3. Binmas Noken: Konsep Dan Implementasinya Dalam Pandangan Prof. CDL; 4. Pendekatan Humanis Merebut Hati Papua; 5. Infinite Noken: Terajut Asa, Terisi Harap; 6. Vademikum Polda Papua; 7. Polda Papua PON XX – PEPARNAS XVI : Prestasi Di Tengah Pandemi; 8. Meniti Jalan Damai: Dinamika Pemolisian Humanis Polda Papua; 9. Company Profile Polda Papua: Sori Busyo Yai Se (Pengawal Dan Penjaga Peradaban Tanah Ini).

Selanjutnya dilakukan Penyerahan piagam, buku dan Noken kepada 8 tokoh perwakilan oleh Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D. Fakhiri S.I.K dan Sekda Provinsi Papua Dr. Ridwan Rumasukun. 8 tokoh tersebut yakni Tokoh Adat Maximus lani, Bupati Paniai Meki Frits Nawipa, Tokoh Agama Pdt. Lipiyus Biniluk Sth, Tokoh Cendekiawan Rektor Uncen Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST, MT, Tokoh Pemuda Charles Toto, Penulis dan Peneliti Kristin Samah, Tokoh Nasional Prof (Ris) Hermawan Sulistiyo MA Phd.

Jayapura, 15 Februari 2022