oleh

Istri Pelaku Pemukulan di Bolmut Meminta Keadilan dan HAM

Investigasi Bhayangkara Indonesia, Bolmut – Elisabet potabuga (22) Warga Desa Buko Kecamatan Pinogaluman Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) istri dari pelaku Mustakim Ponamon meminta keadilan atas kasus yang menimpa suaminya

Dari hasil konfirmasi Elisabet, suaminya menjadi korban perkelahian tanding karena awalnya mererai perkelahian antara NM alias Oni dan OY , yang akan memukil Ririt Alias ID

“Suami saya itu Korban perkelahiaan tanding awalnya cuman memisahkan perkelahiaan dari NM alias ONI dan OY yg mencoba memukul Ririt alias ID setelah beberapa menit kemudian Rilit alias ID kembali mengambil mobilnya yang tertinggal di tempat kejadian, disitulah terjadi kembali perkelahian tanding antara suami saya dan rilit dgn dua orang tersebut hingga menyebabkan kepala suami berdarah karena dihantam dengan sebuah botol M150,” unkap Potabuga, Selasa (21/7/2020).

Lebih lanjut Lisa (Sapaan Akrab) mencertikan Pukul 02.00 Wita, suami saya dibawah ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Desa Buko

Puskesmas Desa Buko untuk mendaptakan Perwawatan Lukanya selama tiga hari, pagi harinya suami saya melaporkan Kejadiaan tersebut di Polsek Pinogaluman dgn nomor laporan LP/12/IV/2020/SEK PGLMN tgl 19 April 2020 ditangani oleh AIPDA BUDI SATRIYO NRP 79041233.

“Lalu kami mendapat ancaman melalui telepon dari KB alias Ciko ke orang tuanya Mustakim, serta mendatangi rumah saya terus mengancam akan membunuh suami saya,” ungkapnya dengan nada menangis saat dihubungi lewat telepon genggam.

Namun katanya, seharusnya suami tercintanya itu menjadi korban malah dijadikan pelaku.

“Laporan kami tidak ditindak lanjuti, suami saya yang dijadikan tersangkan oleh Polsek Pinogaluman, sejak tanggal 19 Juni 2020, alasan pihak kepolisian keterangan tiga saksi masih kurang, padahal juga ada hasil visum et revenntum,” bebernya.

Dirinya selaku warga negara, meminta keadilan hukum dan kepastian hukum dalam kasus yang menimpa suaminya,

“Suami saya korban ditahan polisi, tapi NM alias ONI dan KB alias Ciko mereka yang membuat kekacauan tidak ditahan,
ada apa dengan hukum di Polsek tersebut,” kesalnya.

Terpisah, Amang Nusi Istri salah satu istri tersangka Rahim, mengeluhkan pelayanan Polsek Pinogluman karena, merasa Hak Asasinya dikekang pihak kepolisian.

“Saya mengantarkan paket makanan suami di tahahan, malah dikunci, alasan mereka kunci ada sama Kapolsek sehingga makanan dan air minum tidak bisa dimasukan, ini sudah melanggar Hak Asasi Manusia kalau merujuk kepada aturan,” katanya.

Sementara itu. Aktivis GM351 Chandra Manggopa, menanggapi kasus tersebut, meminta untuk memproses sesuai aturan hukum.

“Bahwa pasal 1 Angka 5 KUHAP penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undangini;
Bahwa Penjelasan Pasal 1 Angka 5 KUHAP Peristiwa tindak pidana Sudah terjadi,” ungkapnya.

Ditambahkannya juga, berdasarkan putusan MK Nomor 21/PUU-XII/2014 Mahkamah Konstitusi menyatakan inkonstitusional bersyarat terhadap frasa bukti permulaan.

“Bukti permulaan yang cukup dan bukti yang cukup disebutkan, dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17, dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP sepanjang dimaknai minimal dua alat bukti sesuai Pasal 184 KUHAP.
Kami menuntut profesional penyidik sesuai program Kapolri Melakukan Reformasi Dibidang Peneggakan Hukum Melalui Program polri Promoter profesional, modern, terpecaya, dalam peningkatan Kinerja melalui Peningkatan Pelayanan Publik, Profesionalisme, dan Penegakan Hukum,” tegasnya..( tim)

Komentar

News Feed