Kasus Petrus Mandek, Komnas HAM Akui Ada Andil Purnawirawan Mangkir

Umum209 Dilihat

Jakarta, CNN Indonesia — Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan penolakan dari purnawirawan TNI dan Polri untuk dimintai keterangan membuat penyelesaian kasus tragedi penembakan misterius (petrus) mandek hingga kini.

Dalam proses penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi pada medio 1982-1985 itu, Komnas HAM telah meminta keterangan dari 115 orang. Dari jumlah itu, pihak yang dimintai keterangan dari TNI dan Polri masing-masing berjumlah dua orang
Memang ada kendala. Pertama, penolakan dari purnawirawan TNI dan Polri untuk memenuhi panggilan Komnas untuk memberikan keterangan,” kata Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara dalam diskusi daring, Kamis (3/1).

Kendala lainnya, intimidasi terhadap korban yang hendak memberikan keterangan. Beka mengakui, sulit meyakinkan korban untuk memberikan keterangan. Sebab, korban yang berani buka suara mendapat intimidasi dari aparat.

Kalau pun sudah berani memberikan keterangan, ada intimidasi yg membuat susah bahkan urung memberikan keterangan,” ucap dia.

Sebagai informasi, Beka menjelaskan, tragedi Petrus ini memakan banyak korban. Ia meyakini, jumlah korban mencapai 3 ribu orang.

“Ada yang bilang 3 ribu, 2 ribu, tapi juga ini jumlah yang saya kira bisa jadi lebih banyak karena identifikasi-identifikasinya atau kemudian penguburannya,

Penghilangannya itu juga sangat banyak. Sehingga saya yakin korbannya lebih dari 3 ribu orang,” imbuhnya.

Terkait upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat itu, Komnas HAM telah membentuk tim Ad Hoc pada 2008. Pembentukan tim itu berdasarkan persetujuan DPR dengan mengacu pada UU 26 tahun 200p terkait pengadilan HAM.
Mekanismenya, soal ada pengadilan ham untuk perkara pelanggaran HAM yang berat yang terjadi setelah tahun 2000. Itu istilahnya pelanggaran hak, kemudian pengadilan hak ad hoc untuk perkara2 pelanggaran hak yang terjadi sebelum tahun 2000,” jelas dia.

Namun, kata Beka, sampai saat ini penyelesaian belum tuntas. Ia menyebut korban belum mendapat keadilan, bahkan permintaan maaf dari para pelaku

Dan soal pertanggung jawaban yang saat ini masih nihil.