oleh

Kasus Tanah eks PT Nandi Amerta Agung Oknum Hakim PN. Kab. Semarang di Laporkan ke Pengadilan Tinggi Jawa Tengah.

Semarang investigasibhayangkara.com

Kasus tanah eks PT. Nandi Amerta Agung di laporkan ke Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, kasus ini berawal dari perseteruan pengadilan yang di duga tidak netral. Karena Di duga ada konspirasi dan kepentingan Kades Watu Agung tuntang yang melibatkan oknum Hakim PN. Kab. Semarang.

Pelaporan di terima oleh Diono bagian Hukum Pengadilan Tinggi Jawa Tengah senin 24/8/2020

“Laporan ini saya terima, silahkan di berikan ke loket penerimaan” katanya singkat.

Menurut Subagyo “Oknum Hakim ini kami laporkan karena saya anggap sudah tidak netral dalam persidangan” ujar Subagiyo, Ka. Korwil PINRI Wilayah DIY, pada wartawan di Kantor Pengadilan Jawa Tengah, senin, 24/8/2020

Subagiyo menambahkan “Bahwa kasus ini seharusnya di putuskan sesuai dengan petunjuk bukti bukti yang ada” imbuhnya.

“Kenapa justru di putuskan tidak ada yang bersalah tidak ada yang menang alias NO (
merupakan putusan gugatan yang menyatakan bahwa gugatan tidak dapat di terima karena alasan gugatan mengandung cacat formil)”
pungkasnya.

Roni Rinto Nugroho, MDR. SH. MH. kuasa Hukum H. Ahmad Duri pemilik tanah yang di akui oleh Kades Watu Agung mengatakan, “Kasus ini saya liat penuh dugaan rekayasa antara pihak oknum Hakim PN dan Kades Watu Agung” ujar Roni

“Saya bersama PINRI ( Personil informan Negara Republik Indonesia) akan terus mengawal kasus ini, seperti yang sudah saya laporkan hari ini, senin 24/8/2020” katanya.

“Pelaporan bukan hanya ke Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, oknum Hakim juga saya laporkan ke Komisi Yudisial Jawa Tengah” imbuhnya.

Kasus perseteruan tanah eks PT. Nandi Amerta Agung ini berawal dari tanah yang di miliki H. Ahmad Duri yang di duga diserobot oleh Kepala Desa Watu Agung HC.

Waktu itu tahun 1985, H. Ahmad Duri kepala desa Watu Agung saat itu kedatangan dari Dinas Peternakan Kabupaten Semarang Sanuri. Dari delegasi PT. NAA yang di wakili oleh direktur utamanya dan Eko Sudadi dari Manager Umum, tahun 1985 mencari Kotel (tempat peternakan Sapi) setelah bertemu dengan kepala Desa H. Ahmad Duri meninjau lokasi dipilihlah tanah seluas 5134 ribu persegi di ujung desa atau di pintu masuk desa, ternyata tanah tersebut bengkok lurah, karena tanah tersebut merupakan tanah bengkok lurah maka di adakanlah musyawarah desa.

Setelah musyawarah desa. H. Ahmad Duri di beri pengarahan oleh Dinas peternakan dan PT. NAA untuk menukar guling tanah tersebut dengan tanah yang berada di desa tersebut dengan luas yang sama.

Setelah di adakan rembuk deso tanah bengkok di tukar dengan tanah milik Kepala desa H. Ahmad Duri, sebanyak tiga tempat dengan ukuran yang sama yaitu 5134 meter persegi.

Setelah rembuk desa itu di lakukan dengan di saksikan Camat lalu di ajukan Bupati. Bupati kalau belum ada pengesahan dari Gubernur juga belum berani, setelah Gubernur, Muhammad lsmail menyetujui Bupati Kabupaten Semarang, Drs. Sardjono saat itu mengesahkan, akhirnya sah tukar guling di laksanakan.

Setelah di sahkan H. Ahmad Duri menjual tanah tersebut ke PT. NAA (Nandi Amerta Agung) perusahaan menggunakan kandang sapi.

Setelah di gunakan sebagai kandang sapi selama tiga tahun Perusahaan PT. NAA bangkrut. Melalui direktur utama tanah yang di beli, tidak jadi di beli karna uangnya gak ada akhirnya di kembalikan oleh H. Ahmad Duri, uang muka sebesar Rp. 15 juta di serahkan kepada direktur PT. NAA, tàpi saat akan di sertifikatkan oleh Ahmad Duri di halang halangi dan di rintangi oleh HC Kepala Desa Watu Agung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Kades Watu Agung HC saat di konfirmasi melalui selluler nya tidak membalas.
Syailendra/Tim

Komentar

News Feed