oleh

Kejagung Akan Kembalikan Lagi Berkas Penyelidikan Peristiwa Paniai ke Komnas HAM

Investigasi Bhayangkara.com – Kejaksaan Agung akan mengembalikan lagi berkas penyelidikan Peristiwa Paniai kepada Komnas HAM.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Hari Setiyono ketika dikonfirmasi Kamis (30/4)2020 mengtakan kendati demikian, Direktorat Pelanggaran HAM Berat Jaksa Agung Muda bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung masih menunggu petunjuk dari Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin. “Untuk pengembalian berkas nanti masih menunggu petunjuk pimpinan lebih dahulu yaitu Bapak Jaksa Agung selaku penyidik,”ujarnya

Selanjutnya, Hari menjelaskan pengembalian berkas ini akan menjadi kali kedua bagi Kejagung. Sebelumnya, berkas penyelidikan Peristiwa Paniai dikembalikan ke Komnas HAM pada 19 Maret 2020 karena dinilai belum memenuhi syarat formil dan materiil. “Kemudian, berkas tersebut dilengkapi Komnas HAM dan dikirim kepada Kejagung pada 14 April 2020,” jelasnya.

Untu itu, Hari menandaskan pihaknya sudah meneliti berkas yang telah diperbaiki tersebut. Namun, menurutnya, Komnas HAM tidak melengkapi petunjuk yang telah diberikan. “Ternyata setelah berkas dikembalikan tidak ada satupun petunjuk yang diberikan penyidik untuk dilengkapi dalam waktu 30 hari menurut ketentuan Undang-Undang, ternyata tidak dilaksanakan (Komnas HAM),” tandasnya.

Bahkan, Hari menegaskan , Komnas HAM malah memberi komentar terhadap petunjuk yang diberikan Kejagung. Namun, ia tidak merinci lebih lanjut komentar seperti apa yang diberikan Komnas HAM maupun petunjuk yang dimaksud. Diberitakan, Komnas HAM telah menetapkan peristiwa Paniai pada 7-8 Desember 2014 sebagai peristiwa pelanggaran HAM berat,”tegasnya.

Hal ini diputuskan dalam Sidang Paripurna Khusus Komnas HAM pada 3 Februari 2020. Keputusan paripurna khusus tersebut berdasarkan hasil penyelidikan oleh Tim Ad Hoc, yang bekerja selama 5 tahun mulai dari tahun 2015 hingga 2020. Dalam Peristiwa Paniai, terjadi kekerasan penduduk sipil yang mengakibatkan empat orang yang berusia 17-18 tahun meninggal dunia akibat luka tembak dan luka tusuk. Kemudian, 21 orang lainnya mengalami luka akibat penganiayaan.(Vecky Ngelo)

Komentar

News Feed