oleh

Ketua TP – PKK kabupaten Parimo beri penjelasan tentang pentingnya pola asuh anak dan remaja

Investigasi Bhayangkara Indonesia.com. PARIGI MOUTONG- Ketua TP- PKK Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) yang juga Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Parigi Moutong Dra Hj Noor Wachida Prihartini S Tombolotutu bicara soal Stunting utamanya pentingnya pola asuh anak dan remaja.

Kegiatan bertajuk dialog yang disiarakan secara langsung (live) oleh RRI Toli Toli dari Bukit Asam Tinombo (7/9-2021)
Dalam kegiatan tersebut, menghadirkan pembicara diantara, Kepala Bappelitbangda Parimo Irwan SKM MKes, Kepala BPBD Parimo Idran ST MPW, Kepala Dinas Kesehatan Elen Ludya Nelwan MKes dan Kepala Dinas PUPRP Parimo Azis Tombolotutu SIKom.

Ketua PKK Parimo Noor Wachida mengatakan, sebelum Pandemi Covid-19 melanda, ia bersama tim Kelompok Kerja (Pokja) terjun langsung ke Desa Desa untuk melakukan penyuluhan penyuluhan terkait penaganan Stunting. Bahkan sampai Pandemi Covid-19 melakukan sosialiasi tetapi dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat.

Menurutnya, ia telah membagi Pokja berdasarkan bidang kerja masing masing terdiri dari Pokja I, Pokja II, Pokja III dan Pokja IV.

Untuk penyuluhan Pokja I kata ia keterkaitanya sangat tinggi sekali karena didalamnya melakukan penyuluhan simulasi pola asuh anak dan remaja.

Untuk pokja II penyuluhan Bina Warga Balita (BKB) bagaimana bisa menjadi orang tua hebat.

“Saya jelaskan, untuk penyuluhan pola asuh anak dan remaja, tentunya melibatkan para orang tua. PKK bukan hanya datang penyuluhan akan tetapi semuanya kita siapkan, bahkan kita sudah menjadi panitianya. Dengan adanya pandemi, kita melaksanakan kegiatan ini sudah dengan sosial distancing. Ibu ibu pengurus tim PKK sudah menghubungi kepala desa, menghubungi para PKK Kecamatan dan desa menyiapkan masyarakaynya mengikuti penyuluhan terutama yang masuk dalam Stunting. Tentunya kita pandu dengan Protokol Kesehatan,”Jelasnya.

Untuk bina keluarga kata Noor Wachida, ia selalu menyampaikan kepada masyarakat bagaimana pentingnya orang tua untuk membina keluarga tentunya melibatkan tokoh masyarakat. Menurutnya banyak anak anak usia masih dibawah umur sudah menikah, padahal kata ia belum boleh menikah.

“Mari kita bekerjasama dalam penaganan Stunting terutama Kementerian Agama, tokoh masyarakat bisa mengedukasi kepada masyarakat pentingnya pola asuh anak dan remaja utamanya anak masih dibawah umur tidak cepat cepat untuk menikah,”Jelasnya.

Lanjut Noor Wachida, kadang kadang masih ada anak dibawah umur dipaksa orang tuanya untuk menikah. Melihat masih adanya kasus tersebut, sehingga ia kebetulan juga selaku Ketua P2TP2A Parigi Moutong mengambil tindakan membuat komitmen bersama dengan para KUA se Kabupaten Parigi Moutong, dengan tujuan jika ada anak menikah di usia muda dibawah 19 tahun maka harus dihalangi atau tidak dibolehkan menikah, dengan tujuan jangan sampai berisiko pada anak tersebut.

“Untuk menurunkan angka Stunting tentunya ini sangat penting sekali, karena pada saat mereka belum cukup umur sudah hamil sedangkan tubuhnya sendiri masih akan berkembang maka inilah menyebabkan bayinya itu itu nanti menjadi Stunting atau tidak tumbuh secara normal karena masih berebut antara ibu dan bayinya,”Ujarnya.

(Faisal/DISKOMINFO PARIMO)

News Feed