oleh

MEMANFAATKAN MATA AIR DARI GUNUNG TELAPAK TANGAN MENJADI SUMBER AIR MINERAL DI KEC. KARANGAN KUTIM.

investigasi Bhayangkara Indonesi. Com. SANGATTA–Kutai Timur (Kutim) merupakan daerah yang kaya sumber daya alam (SDA). Tak heran ada salah satu kecamatan yang mencoba memproduksi air mineral kemasan, khususnya di Kecamatan Karangan.

Kecamatan tersebut memiliki gunung batu yang menjadi sumber air mineral kemasan itu nantinya. Dikenal dengan Gunung Telapak Tangan, salah satu gugusan Karst Mangkalihat itu memiliki air yang terbilang jernih.

Camat Karangan Madnuh menyebut, sumber airnya dari Kilometer 12, yang bersumber dari Gunung Telapak Tangan. “Jadi, memang ada proses penyaringan lebih dulu karena kandungan kapur cukup tinggi. Secara teknis bisa diatasi untuk menjadi air kemasan,” ucapnya.

Menurutnya, wacana tersebut sudah mencuat sejak tahun lalu. Itu program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Karangan Ilir Mandiri dan Harmonis (DKI Manis). Air mineral tersebut dipastikan memiliki kualitas baik. Bahkan, tidak kalah dengan produk mineral lainnya.

“Kami bekerja sama dengan teknisi dari Jakarta. Alatnya sudah datang. Hanya, teknisi belum datang karena pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Namun, pihaknya sudah melakukan komunikasi ulang dengan teknisi. Jika berjalan, BUMDes dapat memproduksi ribuan botol per hari. “Saya lupa angka pastinya.

Selain kemasan botol kami akan produksi kemasan gelas. Sekarang fokus botol dulu,” terangnya. Sementara untuk pasar, dia tidak begitu khawatir. Pasalnya, beberapa perusahaan yang beroperasi di kawasan Karangan bersedia menjadi pembeli. “Merek belum ada.

Kemungkinan namanya sesuai BUMDes yang memproduksi. Nanti memasarkan ke Sangatta. Kebetulan launching nanti di pemkab,” sebutnya.

Kegiatan tersebut sudah menghabiskan anggaran Rp 400 juta lebih. “Yang jelas, kalau teknisi sudah datang, produksi dimulai,” katanya.

Pihaknya telah mengklasifikasikan keunggulan desa-desa di kawasan Karangan. Desa Batu Lepok akan konsentrasi pada pariwisata, Desa Karangan Ilir fokus pada perkebunan dan air kemasan,

Karangan Seberang khusus persawahan, Karangan Dalam lebih pada nuansa religius lantaran terdapat banyak ustaz. “Semua akan dikembangkan. Itu akan menghidupkan perekonomian di Kutim,” tutup Madnuh. (IBI KALTIM)

Komentar

News Feed