oleh

Oleh-oleh Setelah Bebas Dari Balik Terali Besi, Seorang Penggiat Sosial Media Si Jamri Lessa

Investigasi Bhayangkara Indonesia.com – KUTAI BARAT (Kaltim) | Pasca dilepaskannya Jamri Lessa, penggiat sosial media asal Kutai Barat dari Lapas Tenggarong karena kasus pelanggaran ITE, ia pulang ke Kutai Barat dengan membawa pengalaman berharga yang layak  dibagikan kepada masyarakat umum dan secara khusus kepada netizen yang mengidolakannya.

Saat ditemui di resto Amazy Barong Tongkok, Senin malam, (03/05/21), ditanya bagaimana perasaan setelah bebas dari Lapas? 
Masih dengan gaya lamanya, dengan santai dan senyum tipisnya seorang Jamri mengatakan, setelah keluar dari lapas ia merasa biasa-biasa saja dan tidak merasa malu. 

“Anak istri saya memberikan semangat kepada saya dan mereka mengatakan mereka tidak malu ternyata suaminya ini pernah masuk penjara. 
Karena bapaknya atau suaminya ini masuk penjara bukan karena mencuri, membunuh, nyabu dan lain sebagainya. Justru yang disampaikan itu untuk merubah sesuatu itu menjadi lebih baik. 
Ya itu…, syukurlah bagi saya karena mereka bangga punya bapak seperti saya, punya suami seperti saya,” tutur Jamri.

Diketahui sebelumnya, kasus yang menjerat Jamri Lessa bermula dari unggahannya di sosial media facebook pada 29 Mei 2020 lalu. 
Ia menyoroti pembagian BLT kepada masyarakat yang dinilai kurang tepat sasaran.
Kritikannya soal pembagian Bantuan Langsung Tunai itu belakangan dipersoalkan tim Auditor Inspektorat hingga melapor ke polres Kubar. Kemudian pada 23 september 2020 polisi menetapkannya sebagai tersangka.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Kutai Barat akhirnya menjatuhkan vonis 8 bulan penjara dan denda Rp.500 juta subsider 1 bulan kurungan terhadap Jamri Lessa. Vonis tersebut diputuskan pada 4 februari lalu.

Setelah menjalani masa tahanan sekitar 7 bulan dari vonis 8 bulan kurungan serta denda Rp 500 juta subsider 1 bulan penjara, Ia keluar dari lapas Tenggarong Kalimantan Timur pada tanggal 26 April 2021.
Namun demikian, ia masih harus wajib lapor ke Bapas Tenggarong karena masih menjalani bebas bersyarat.

“Jadi saya dapat asimilasi covid-19 karena itu juga hak setiap narapidana yang sisa masa penjara kurang 6 bulan. Saya khan sudah lebih. Tapi masih wajib lapor setiap hari Senin sampai tanggal 23 Juni 2021.” ujar Jamri

Pulang Ke Kutai Barat, hal pertama yang dirasakan adalah kebahagian yang lebih dalam kebersamaan dengan keluarga 

“Dari sisi keluarga saya merasa bagaimana rasanya jauh dari keluarga, rasa sayang pada anak istri saya itu betul-betul berubah setelah saya masuk penjara,” ungkap Jamri penuh perasaan.

Ia merasa sangat beruntung karena keluarganya tetap memberi dukungan moral sejak awal diciduk polisi hingga dibui.

Dan yang membuat dia bangga keluarganya justru tidak malu dengan status mantan narapidana. Sebab kasus yang menjeratnya bukan perkara amoral.

Selain keluarga, dukungan moral juga diberikan masyarakat sejak dirinya dituduh mencemarkan nama baik dengan dalih melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Para netizen juga memberi dukungan dan komentar positif.
“Respon masyarakat sangat baik setiap status yang saya kirim itu saya tidak menemukan satu orang pun yang berkomentar jelek tentang saya. Justru mereka sangat mendukung saya, senang dengan saya, bangga dengan saya. Bahkan ada bantuan, mereka inbox yang tidak bisa saya sampaikan disini. Jadi saya merasa maaf ya saya katakan secara hukum saya kalah tetapi secara moral saya menang,”  ucap Jamri Lessa.

Hikmah penting pasca dipenjara, menurut Jamri adalah harus lebih hati-hati dalam bersosial media.

“Saya memang harus ekstra hati-hati juga karena ada undang-undang ITE yang menurut saya sangat berat untuk kita lolos. Ada sejumlah pasal yang itu tidak mempublikasikan, memberitakan di situ kalaupun kita benar kalau sudah kena undang-undang ITE tetap kena kita,” lanjutnya.

Oleh karenanya, ia berpesan kepada masyarakat umum agar lebih berhati-hati dan tetap memperhatikan aturan hukum yang berlaku.

“Intinya mereka harus hati-hati misalnya mengkritik. Ya hati-hati khan berbeda dengan takut. Kalau mau bilang edukasi ke masyarakat saya kira susah karena setiap orang punya tingkat pendidikan yang berbeda-beda pemahaman yang berbeda-beda,” pesan Jamri..

Pengalaman harus mendekam di balik terali besi tidak lantas membuatnya jera bersosial media,
“Saya tetap memposting karena saya pikir saya harus menyuarakan. Bahkan saya mengambil istilah keren yang namanya aktivis keluar masuk penjara itu bukan sesuatu yang aneh, hal yang biasa….,” katanya.

Masih kata Jamri, lanjut dia,
“Jadi bagi saya kalau penjara itu, kalau bisa dihindari…. ya saya hindari. 
Tetapi kesulitan, kesedihan di dalam penjara tidak mengurangi niat saya, tidak menyurutkan niat saya untuk tetap memperjuangkan masyarakat banyak,” ungkap Jamri.

Menurut Jamri UU ITE seharusnya tidak membungkam pendapat masyarakat, sebab kebebasan berpendapat adalah hal yang biasa dalam negara demokrasi.

Dia mengakui kritikannya di sosial media memang mayoritas seputar kebijakan pemerintah. Namun yang dia sayangkan, pemerintah bukannya mengklarifikasi tetapi langsung melapor ke aparat berwajib.

“Saya kira pemerintah harusnya lebih bijak menyikapi setiap keluhan masyarakat. Artinya cobalah yang dikritik itu apakah ada kebenaran juga di situ, bukan berusaha mencari kesalahan yang mengkritik. 
Ada baiknya untuk mengklarifikasi dulu. Mengecek langsung apa yang dikeluarkan, misalnya ada kritik masyarakat tentang jalan ya coba dulu dicek jalannya itu seperti apa, bukan mencari salah yang kritik,” harapnya tegas.

Jamri Lessa menganggap, pemerintah mulai dari kepala desa sampai Bupati, hingga presiden adalah orang tua bagi masyarakat. 
Sehingga, seharusnya Pejabat mendengarkan keluhan dan melayani masyarakat, dan bukan mencari-cari kesalahan.

“Itu sebab menurut saya pemerintah bukan musuh masyarakat tetapi orang tua bagi masyarakat. 
Ketika mereka sudah berpikir bahwa mereka sebagai orang tua masyarakat, maka tujuan mereka bukan mencari kesalahan anaknya itu tetapi menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya,” pinta Jamri Lessa.

Jamri mengaku siap berdialog jika dibuka ruang oleh pihak-pihak yang merasa terganggu dengan tulisannya di sosial media.

“Kalau saya menyampaikan kritik jangan langsung melihat dari sisi hukum nya coba esensi kritik saya itu apa dulu. Karena dari sisi hukum, ini khan berbeda kalau kita menyampaikan kritik tidak disertai bukti walaupun kita benar, kita tetap salah. 
Tapi kalau begitu caranya berpikir apa yang mau diperbaiki?… 
Tidak akan baik ini ke depan kalau seperti itu terus,” katanya.

Terakhir ditanya awak media, apakah kritikannya ke Pemerintah ada tendensi politik atau dendam pribadi dengan oknum pejabat?.

“Saya merasa tidak pernah, karena saya kritik ini sebelum era pak Thomas (era Bupati kedua Kubar) sudah saya kritik. 
Kenapa jaman pak Rama (Nupati pertama Kubar) dulu itu tidak ramai, karena waktu itu belum ada jaringan seperti sekarang ini.” terang Jamri.

Masih kata Jamri.
“Jadi kritik saya tidak ada sentimen pribadi,… tidak ada sama sekali. Karena saya mengkritik bukan cuma era sekarang dari dulu saya sudah mengkritik,” tegas Jamri Lessa mengakhiri kisah yang baru dilaluinya.

(IBI-Paul)

Komentar

News Feed