oleh

POLDA METRO JAYA BIDANG HUMAS BERITA PERS TENTANG PENGUNGKAPAN DAN PENANGKAPAN PELAKU PRAKTEK ABORSI TIDAK MEMILIKI IJIN

Investigasi Bhayangkara Indonesia, Jakarta – Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, Pada Jum’at sore ( 14/2) menjelaskan di dalam siaran pers nya, bertempat di Klinik Paseban, Senen, Jakarta Pusat.

Subdit III Sumdaling Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya telah berhasil melakukan pengungkapan dan
penangkapan terhadap pelaku Tindak pidana dibidang Kesehatan, Tenaga Kesehatan dan Praktek Kedokteran (dengan cara melakukan praktek kedokteran tanpa izin yang sah dan melakukan aborsi tidak
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku) dan turut serta, membantu,
perbuatan yang dapat dihukum.

Berdasarkan laporan masyarakat, Laporan Polisi
Nomor : LP/197/II/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ tanggal 10 Februari 2020;
yaitu hari Senin, 10 Februari 2020 pukul 16.00 WIB ,beralamat ( TKP ) di Jl. Paseban Raya No. 61 RT. 2/7 Kel. Paseban Kec. Senen Jakarta Pusat;

Adapun saksi – saksi yang pada saat itu berada di tempat kejadian perkara ( TKP) saat dilakukan penindakan berjumlah 6 orang (yang berada di TKP saat dilakukan penindakan)

Oleh karena itu ,polisi telah menetapkan ada 6 tersangka.
Antara lain :
– MM alias dr A ( sebagai dokter)
– RM (sebagai bidan)
-SI (sebagai karyawan bidang pendaftaran dan administrasi pasien).

Juga diamankan 6 barang bukti yaitu :
a. 1 (satu) jasad janin/bayi keadaan tidak utuh (diperkirakan usia janin 6 bulan dan sudah punya
rambut).
b. 1 (satu) buah vakum dan 1 alat USG.
c. 1 (satu) buah tempat tidur (tempat pasien dilakukan aborsi).
d. 4 (empat) pack berisi kassa dan jarum suntik.
e. Air infus.
f. 1 (satu) buah alat automatic blood pressure.
g. 9 (sembilan) pack obat untuk aborsi.
h. 1 (satu) pack alat tespek.
i. 1 (satu) botol larutan antiseptic.
j. 1 (satu) bundel buku catatan.
k. 1 (satu) set perlengkapan operasi.
l. 1 (satu) bundel buku catatan.
m. 1 (satu) set perlengkapan operasi.
n. 1 (satu) buah tabung oksigen.
o. 4 (empat) unit handphone.

Berikut uang tunai :
b. Uang tunai Rp. 25.250.000,-.
c. 3 (tiga) box kartu nama bertuliskan PRAKTEK BERSAMA Ahli Kebidanan & Kandungan
Klinik Steril 085265596795.
d. 1 (satu) unit mobil No.Pol. B 1259 WSZ (Honda Civic) berikut STNK dan Kunci Kontak.
e. 1 (satu) unit mobil No.Pol. B 1369 WJG (Honda CRV) berikut STNK dan Kunci Kontak.
f. 1 (satu) unit mobil No.Pol. B 2992 KKE (Honda BRV) berikut STNK dan kunci kontak.

MODUS OPERANDI daripada kejahatan aborsi ilegal ini yaitu : pelaku melakukan kegiatan aborsi yang tidak memiliki kahlian / disiplin ilmu bidang kedokteran
spesialis kandungan dan melahirkan dan tidak memiliki izin untuk praktek kedokteran serta kegiatan
kesehatan lainnya.

KRONOLOGIS kejadian bermula dengan adanya informasi dari masyarakat bahwa di TKP terdapat 1 buah rumah yang dijadikan klinik
aborsi / pengguguran kandungan (tanpa nama) dan dikenal dengan nama Klinik Aborsi Paseban Senen
Jakarta Pusat, dimana tempat tersebut digunakan untuk melakukan praktek kedokteran tanpa izin yang
digunakan sebagai untuk melakukan aborsi dengan pelaku dokter umum tanpa ijin yang sah dari
instansi terkait dan bertentangan dengan UU yang berlaku.
Pada tanggal 10 Februari 2020 pagi Petugas Unit 5 Subdit 3 Sumdaling melakukan penyelidikan ke
lokasi Klinik Aborsi Paseban Senen Jakarta Pusat, dan ditemukan banyak pasien yang keluar masuk
klinik tersebut, sekitar Pkl 16.00 WIB, Petugas Subdit 3 Sumdaling melakukan penindakan dengan
masuk ke Klinik, dan pada saat tersebut dr A berusaha untuk melarikan diri melalui pintu belakang klinik
menuju bagian atas Klinik, namun tertangkap tangan Petugas dan berhasil digabungkan dengan pasien
dan karyawan klinik lainnya di bagian tengah ruangan. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan ditemukan barang bukti sebagaimana dicantumkan dalam Barang Bukti. Para saksi diamankan Petugas ke Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya, dan dilakukan Berita Acara Interogasi.

Berdasarkan keterangan dari para saksi dan tersangka yaitu :
a. Klinik Paseban yang beralamat di Jl. Paseban Raya No. 61 RT 002/007 Kel. Paseban Kec. Senen Jakarta Pusat milik RD (Rustam Didong), disewakan sejak bulan Mei 2018 – Mei 2021 (3 tahun) dengan biaya Rp 175 Juta pertahun dan telah dibayar lunas selama 3 tahun sebesar Rp. 525 juta rupiah (saat ini telah berjalan 1 tahun 9 bulan) oleh MM als dr. A.
b. Klinik Paseban yang digunakan untuk tempat aborsi disewa oleh tersangka 1 yaitu MM als dr. A, dan digunakan untuk melakukan kegiatan aborsi / pengguguran kandungan secara illegal.

Didalamnya telah tersedia antara lain ruang pendaftaran, ruang pemeriksaan dan ruang tindakan aborsi. Terdapat 6 karyawan yang berperan sebagai 1 orang bagian pendaftaran, 1 orang bagian
keuangan, 1 orang sopir, 1 penjaga rumah dan 2 pembantu rumah tangga.
c. Klinik aborsi tersebut tidak memiliki izin dari instansi terkait untuk melakukan kegiatan aborsi, tidak memiliki izin melakukan kegiatan praktek kedokteran, dan tidak memiliki izin untuk melakukan kegiatan kesehatan lainnya (apalagi aborsi). Yang melakukan kegiatan aborsi terhadap pasien-pasien di klinik tersebut yaitu MM als dr. A, yang bermitra dengan para
bidan.

d. Tersangka 1 yaitu MM als dr. A :
 usia 46 tahun, lulusan S1 Kedokteran Methodis Medan, merupakan dokter di Klinik Aborsi Paseban sekaligus sebagai penyewa rumah, penyedia fasilitas aborsi dan obat-obatan.

Tahun 2006 s/d 2018 (12 tahun) menjadi PNS (Dokter Umum) di Puskesmas Rumbay

3
Bukit Pekan Baru Riau. Selanjutnya dipecat sebagai PNS karena tidak masuk kerja secara
terus-menerus dan terlibat perkara tindak pidana perdagangan orang dan atau prosedur
pengangkatan anak yang salah ditangani oleh Polres Bekasi, dan pernah ditahan selama 3
bulan (Tahun 2012). Tahun 2016 menjadi DPO pengungkapan perkara Aborsi oleh Subdit
3 Sumdaling dengan TKP Klinik Cimandiri Jakarta Pusat. Dan Sejak bulan Mei 2018 s/d
sekarang membuka usaha praktek klinik aborsi (tanpa nama) beralamat di Jl. Paseban Raya Nomor 61 RT 002/007 Kel. Paseban Kec. Senen Jakarta Pusat (sebagai penanggung jawab).

Tidak memiliki keahlian/disiplin ilmu bidang kedokteran spesialis kandungan dan
melahirkan, yang dalam 1 hari bisa melakukan aborsi sebanyak 5 – 10 pasien, namun dalam kurun waktu 3 bulan terakhir kondisi kesehatan MM als dr. A kurang fit sehingga tidak melaksanakan kegiatan aborsi, dan digantikan oleh Bidan Santi, Bidan RM dan dr. SURYA. Seluruh kegiatan aborsi dilaporkan kepada MM als dr. A sebagai pemilik/penanggung jawab Klinik Aborsi Paseban.

Saat ini Klinik Aborsi Paseban mempunyai mitra kerja sekitar 50 bidan (yang menumpang eksekusi aborsi di Klinik illegal miliknya) dan ada 100 calo di sekitar Jl. Raden Saleh dan Jl. Paseban Jakarta Pusat yang mengantarkan pasien aborsi ke Klinik illegal miliknya.

Bidan-bidan ini yang mempromosikan klinik milik tersangka 1, ditangani langsung oleh
Dokter Spesialis Kandungan SPOG Profesional, dengan tempat nyaman, steril, biaya terjangkau dan terjamin.

Waktu yang diperlukan dalam tindakan aborsi di Klinik Aborsi Paseban miliknya yaitu : untuk usia kandungan 1 bulan. 2 bulan dan 3 bulan, tindakan yang dilakukan berupa
vacuum dengan waktu sekitar 5 menit. Dan untuk usia kandungan 4 bulan ke atas,
tindakan yang dilakukan berupa induksi dengan waktu yang diperlukan bervariasi,
tergantung respon kandungan pasien, biasanya paling cepat 12 jam dan paling lambat 2
hari.

Penyebab pasien melakukan aborsi yaitu : hamil di luar nikah, adanya kontrak kerja yang mengharuskan tidak hamil, gagal KB (sudah pasang KB namun tetap hamil, dan telah melakukan operasi Caesar 2 kali).
d. Tersangka 2 yaitu RM (RUMONDANG MANALU) :

usia 54 tahun, lulusan Sekolah Perawat Kesehatan di Sumatera Utara, yang merupakan mitra kerja tersangka MM als dr. A (tidak ada perjanjian kerja sama secara tertulis), berperan sebagai salah satu bidan yang melakukan eksekusi aborsi di Klinik Aborsi Paseban. Tahun 1986 s/d 2005 bekerja sebagai PNS (perawat) di salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat dan mengundurkan diri.

Selanjutnya Tahun 2006 bekerja dan terlibat
dalam perkara aborsi di Pondok Kelapa Jakarta Timur selanjutnya divonis Hakim selama 3 tahun di penjara di Rutan Pondok Bambu Jakarta (saat ini Residivis). Tahun 2007 membuka usaha jualan pakaian dan ulos. Sejak bulan Agustus 2019 s/d sekarang bermitra (freelance) mencari pasien aborsi dan melakukan eksekusi aborsi.

RM melakukan penawaran di website dengan https://kliniknamora.org/ dan
http://klinikkuretnamora.com/ dan https://www.kliniknamora.biz. Dalam website milik RM tersebut dijelaskan bahwa Klinik Namora beralamat di Jl. Salemba Raya Senen Jakarta Pusat, merupakan klinik aborsi legal di Jakarta yang ditangani langsung oleh Dokter Spesialis Kandungan SPOG Profesional, dengan tempat nyaman, steril, biaya terjangkau dan terjamin, Adapun biaya disebutkan untuk : usia kandungan 1 bulan kondisi normal dengan biaya aborsi 1 juta, 2 bulan kondisi normal biaya aborsi 2 juta, 3 bulan kondisi normal biaya aborsi 3 juta, untuk usia kandungan di atas 3 bulan konsultasikan dahulu melalui layanan yang telah disediakan, dengan Nomor Telpon / WA 081310190131.

Dalam website tersebut dijelaskan bahwa aborsi vakum tidak sakit, penanganan tidak lebih dari 2 jam, pembayaran tunai dan tidak menjual obat penggugur kandungan.

Jika ada Pasien yang menghubungi Nomor 081310190131 (milik RM) diyakinkan oleh RM untuk aborsi dengan metode vacuum aspirasi (penyedotan), selanjutnya bertemu dan diantar ke Klinik Aborsi Paseban (Klinik Aborsi Ilegal) milik tersangka 1, dan tersangka 2 melakukan USG sendiri terhadap pasien tersebut dan jika kondisi baik maka dilakukan tindakan aborsi olehnya. Biaya yang diserahkan ke karyawan tersangka 1 (untuk USG Rp. 300.000,- dan untuk tindakan aborsi Rp. 800.000,-). Sisa uangnya untuk RM, yang dikumpulkan untuk pembayaran top up website dan memenuhi kehidupan sehari-hari (minimal Rp. 900 ribu rupiah perorang). Jarang ada yang aborsi dengan usia kandungan 1 bulan, pasti lebih. (Faktanya Klinik Aborsi Namora tidak ada, yang ada Klinik Aborsi di Jl Paseban, dengan status ilegal, tidak ada dokter spesialis kandungan SPOG professional
dan peralatan USG dan alat lainnya tidak steril).

Janin bayi dalam keadaan tidak utuh yang ditemukan Petugas di Ruang Kamar mandi
belakang ruang tindakan di Klinik Paseban adalah hasil tindakan aborsi di Klinik tersebut. Dan seluruh barang bukti yang ditemukan Petugas adalah tanggung jawab MM als MM als dr. A RM mengetahui bahwa tindakan aborsi di Klinik Paseban illegal, sehingga di depan tidak ada plang nama klinik/praktek dokter. RM dalam 1 bulan melakukan aborsi 5 kali dengan keuntungan Rp. 9,5 juta perbulan (aborsi janin rata-rata berusia 3 bulan) x 6 bulan menjadi Rp. 57 juta. Dalam melakukan tindakan aborsi, MM als dr. A dibantu oleh Bidan
SANTI dan dr. SURYA.

Tersangka 3 yaitu S alias I (SALIMAH alias IMAH) :

Usia 42 tahun, lulusan SMP, yang merupakan karyawan dr.A, Tahun 2013 s/d 2016
bekerja di Klinik Aborsi Cimandiri Raden Saleh Jakarta Pusat. Dan pada tahun 2016
pernah tertangkap dan ditahan oleh Subdit 3 Sumdaling Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya dengan vonis Hakim berupa hukuman penjara selama 2 tahun di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pada bulan Januari 2019 s/d sekarang bekerja di Klinik Aborsi Paseban Senen Jakarta Pusat sebagai bagian admistrasi dan menerima pendaftaran pasien yang dibawa para bidan dan calo, melakukan pencatatan bagi pasien yang USG dan aborsi, dengan gaji dan uang makan sebesar Rp. 3,5 juta perbulan.

Biaya melakukan USG sebesar Rp. 300.000,- dan melakukan aborsi Rp. 800.000,-, yang
uangnya dikumpulkan oleh bagian keuangan dan selanjutnya disetorkan dan dilaporkan
kepada MM als dr. A.

f. SURYANI alias BUNDA alias BU DIO merupakan karyawan MM als dr. A dengan peran di
bagian keuangan, dengan mendapatkan gaji dari dr. A sebesar Rp. 4 juta perbulan.

g. dr. SURYA merupakan mitra kerja MM als dr. A dengan peran melakukan aborsi di Klinik
Aborsi Paseban tersebut.
h. Bidan SANTI merupakan mitra kerja MM als dr. A dengan peran melakukan aborsi di Klinik Aborsi Paseban.

Dalam 2 bulan 10 hari Klinik Aborsi Paseban telah menerima pasien yang mendaftar untuk konsultasi
aborsi sebanyak 1.613 orang, pasien yang USG sebanyak 727 orang, dan pasien yang aborsi sebanyak
903 orang, dengan keuntungan untuk MM als dr. A @ Rp. 800.000,- x 903 pasien = Rp. 722.400.000,-
Adapun perhitungan keuntungan selama 21 bulan (1 tahun 9 bulan) mulai bulan Mei 2018 s/d Februari
2020 yaitu :
Pendapatan per 21 bulan : Rp 6,595,826,086,-
Pengeluaran per 21 bulan : Rp 436,800,000

Jumlah pendapatan bersih MM als dr. A selama 21 bulan (1 tahun 9 bulan) di Klinik Aborsi Paseban Rp. 5.438.226086,-

PASAL YANG DISANGKAKAN :
Para Tersangka dikenakan Pasal 83 Jo Pasal 64 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan/atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan/atau Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Jo
Pasal 55, 56 KUHP
a. Pasal 83 Jo Pasal 64 UU RI Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun;
b. Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 UU RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
c. Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

( robertgnaibaho)

Komentar

News Feed