oleh

Polisi Dan Gugus Tugas Covid-19 Datangi Warga Yang Tolak Swab Test Usai Kubur Paksa Pasien Corona

Investigasi Bhayangkara Indonesia.com – KUTAI BARAT (Kaltim) | Terulang lagi keluarga kubur paksa pasien Corona di Kutai Barat. Peristiwa kali ini terjadi di Kampung Kelian Dalam kecamatan Tering kabupaten Kutai Barat.

Ironisnya keluarga dan warga yang hadir dalam peristiwa tersebut enggan melakukan swab tes.

Berawal kejadian setelah keluarga dan warga setempat mengubur sendiri pasien positif covid-19 tanpa protokol kesehatan pada 29 April lalu. 

Warga yang kontak erat selama penguburan pasien Corona itu menolak saat diminta melakukan swab test.

Bahkan hingga satu pekan pasca kejadian itu warga tetap tidak mau di-swab oleh petugas

Oleh karenanya Polres Kubar dan Gugus Tugas penanganan Covid-19 Kabupaten kutai Barat turun tangan secara langsung ke Kelian Dalam guna mengadakan tes swab massal. Kamis (06/05/2021).

Sayangnya, kesadaran wargapun masih sangat rendah. Di saat tim hadir justru mereka menolak datang ke Balai Pertemuan Kampung tempat swab test diadakan. Padahal sebelumnya mereka telah diberitahu dan diundang oleh petinggi.

Menanggapi hal ini, aparat kampung dikawal anggota kepolisian lakukan jemput bola dengan mendatangi rumah masing- masing warga yang terlibat dalam acara penguburan. 

Namun demikian, sayangnya tidak semua warga mematuhi saat dijemput petugas.

Menurut pantauan Media IBI, ternyata sebagian warga yang sudah didata tidak ditemukan di rumahnya, mereka pergi ke ladang, ada yang bekerja.
Bahkan ada juga warga yang dijumpai di rumah, sengaja membuat alasan dan kemudian akhirnya lari bersembunyi.

Saat dimintai keterangan oleh awak media, Kepala Kampung Kelian Dalam Imran Rosadi mengatakan sebagian masyarakat enggan Diswab karena kurangnya edukasi soal bahaya virus Corona.

“Mungkin ada informasi-informasi negatif tentang swab ini sehingga mereka enggan melakukan swab. Ini yang menjadi tanggung jawab kita semua untuk memberikan edukasi kepada mereka semua tentang pentingnya swab tes,” kata Imran Rosadi..

Di tempat yang sama Kepala dinas kesehatan kabupaten Kutai Barat dr.Ritawati Sinaga membenarkan jika pasien yang meninggal dan dikubur tanpa protokol kesehatan itu sebelumnya terkonfirmasi positif Covid-19.

“Pasien perempuan itu awalnya memiliki gejala sesak napas. Dia sempat dibawa ke rumah sakit namun dikembalikan keluarga ke Kelian Dalam. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk. Keluarga lalu mencoba melarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong,” terang Rita.

Hanya saja saat proses penguburan tim gugus sulit berkomunikasi karena jaringan telpon mengalami gangguan.

“Disini kebetulan topografinya agak sulit, kemudian pada saat kematian itu kami mau koordinasi tidak bisa karena gangguan signal sehingga mereka kubur sendiri,” lanjut  Rita menjelaskan.

Selanjutnya dr. Rita menambahkan, dari hasil tracking diketahui ada sekitar 63 orang yang melakukan kontak erat dengan pasien. Namun baru 32 orang yang sudah Diswab oleh petugas.

Nampak ada seorang warga yang protes kepada kepala kampung, sesaat sesudah melakukan swab tes,

“Pak petinggi harus tanggung jawab cari semua mereka yang kabur itu. Biar adil semua. Saya ini sudah sampai Samarinda tapi balik lagi hanya karena mau diswab. Kasihan masyarakat disini ada yang kontak ada yang nda kok itu,” ungkap seorang warga dengan nada tinggi dihadapan petugas.

Yang kemudian dijawab seorang Petugas, Aipda Renson Sinaga yang ikut mencari warga yang kontak erat dengan pasien Corona, dan menyatakan
bahwa Petinggi tidak bersalah.

“Pak petinggi tidak salah pak. Beliau sudah berusaha tapi warga belum mau datang,” sahut Kanit Pidum Polres Kubar Aipda Renson Sinaga.

Dan kemudian kembali disahuti oleh Kepala Desa Kelian Dalam, 

“Nda apa-apa ini sudah resiko dan tanggung jawab saya,” jawab Imran Rosadi.

Sementara itu, Iptu Pujiyono Kapolsek Long Iram menegaskan pihaknya belum melakukan penindakan tegas kepada warga yang masih bandel.

“Tetap kita lakukan upaya pendekatan secara preventif dulu. Untuk sementara kita amankan PPKM mikro bersama tim satgas kampung,” kata Kapolsek Pujiyono.

Bertepatan dengan datangnya hari Raya idul Fitri yang tidak lama lagi, Tim gugus dan pemerintah kampung Kelian Dalam memutuskan untuk memberlakukan karantina lokal atau penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di lokasi tempat pasien meninggal.

Untuk masyarakat yang sudah Diswab maupun belum diminta melakukan isolasi mandiri selama minimal 14 hari sebelum hasil swabnya keluar.

Kasubag Humas Polres Kubar IPTU Andreas TP di lokasi yang sama menyebut, ada 15 anggota Polisi baik dari Polres maupun Polsek Long Iram yang diturunkan ke Kelian Dalam. 

Pihak kepolisian masih melihat itikad baik dari warga sebelum ada tindakan tegas hingga proses pidana.

“Kita minta masyarakat supaya sadar karena sudah banyak yang kena covid ini. Jadi jangan kita main-main dengan covid ini. Karena saya sendiri sudah merasakan itu,” tegas polisi yang pernah terpapar virus Covud-19.

Andreas juga mengingatkan masyarakat untuk menaati protokol kesehatan seperti rutin cuci tangan, menjaga jarak, tidak berkerumun dan wajib menggunakan masker.

(IBI-Paul)

Komentar

News Feed