oleh

Polri tegaskan Masih Cari Oknum Penimbun Radioaktif di Lahan Kosong Batan Indah

Investigasi Bhyangkara Indonesia, Jakarta – Polisi masih mencari penyebab serta oknum yang diduga terkait dengan temuan zat radioaktif di lahan kosong di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Asep Adi Saputra saat konferensi pers di Gedung Bareskrim, Jakarta Selatan, Jumat (13/3) 2020 mengatakan polisi masih mencari penyebab serta oknum yang diduga terkait dengan temuan zat radioaktif di lahan kosong di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan. “Sebab, polisi belum menemukan keterkaitan antara tersangka SM dengan temuan zat radioaktif di lahan tersebut. SM ditetapkan sebagai tersangka terkait kepemilikan zat radioaktif secara ilegal,” ujarnya.

Selanjutnya, Asep menjelaskan SM menyimpan zat radioaktif itu di rumahnya yang juga berlokasi di Perumahan Batan Indah. “Sampai dengan sekarang belum ada korelasinya dengan barang yang ditemukan di TKP awal. Ini masih dalam penyelidikan. Korelasinya masih menjadi target penyidik,” jelasnya.

Untuk itu, Asep merinci penetapan SM sebagai tersangka merupakan pengembangan dari temuan zat radioaktif di lahan kosong di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan. Usai temuan di lahan kosong tersebut, polisi bersama Batan dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) melakukan patroli di kawasan perumahan itu. “Tim menemukan zat radioaktif jenis Cs 137 dan iridium 152, serta sejumlah kontainer. Seluruh barang bukti yang disita tersebut dititipkan di Batan,” rincinya.

Sebelum menetapkan SM sebagai tersangka, Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Agung Budijono mengungkapkan, total terdapat 26 saksi yang dimintai keterangan. “Ada 26 saksi yang sudah kita mintai keterangan, dari mulai RT, RW dan segala macam, ” ujarnya

Selanjutnya, Agung  menegaskan Polisi pun masih mendalami motif serta sumber SM mendapatkan zat tersebut.”Batan sendiri, Bapeten terkait masalah perizinan, karena Bapeten yang punya hak untuk mengeluarkan izin. Ternyata yang bersangkutan tidak memiliki izin,” tegasnya.

Namun, Agung menandaskan berdasarkan keterangan sementara SM, ia mendapatkan zat itu dari temannya. Polisi sedang mencari teman yang dimaksud. “(Pengakuan SM) dia mendapatkan dari temannya. Temannya kita cari, belum mendapatkan info yang valid. Jadi kami terus lakukan pendalaman,” tandasnya.

Seiring dengan itu,  Agung membeberkan.  SM dijerat Pasal 42 dan 43 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Ancaman hukuman maksimal bagi pelaku adalah dua tahun penjara dan denda Rp 100 juta. “Polisi tidak menahan SM karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun, ” bebernya. (Vecky Ngelo)

Komentar

News Feed