Tangkap 2 Truk Muat Kayu Blambangan, 2 Anggota Satreskrim Kubar Diadukan ke Propam Polda Kaltim

Kalimantan Timur326 Dilihat

Investigasi Bhayangkara Indonesia, KUTAI BARAT (Kaltim) | Penangkapan dua orang pelaku dugaan illegal logging. Yakni O alias Samsunar (45) dan H (46) asal Sulawesi Selatan oleh Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polres Kutai Barat (Kubar) akhirnya berbuntut pada pelaporan balik dua anggota Polres Kubar ke Propam Polda Kaltim oleh Ketua DPC LAKI Kabupaten Kukar, FB.Jemmy.

Menurut Jemmy, polisi semestinya memberikan kesempatan kepada para supir untuk menunjukkan dokumen yang masih dalam perjalanan.

“Polisi langsung menyita barang bukti dan dibawa ke Polres. Tidak memberikan ruang sama sekali kepada supir ini menunjukan surat-surat tadi. Dokumennya lengkap sebenarnya hanya belum ada di tempat,” katanya kepada awak media melalui sambungan telpon, Kamis (17/2/2022) malam.

Jemmy meyakini dua supir itu tidak bersalah karena posisi mobil tidak sedang jalan. Hanya saja dia mengaku saat itu mobil memang parkirnya sekitar 10 Km dari lokasi bansaw atau titik muat yang sebenarnya.

Mengingat dua mobil fuso itu tidak bisa masuk ke lokasi karena jalan rusak dan dilarang masyarakat. Sehingga mereka terpaksa menggunakan mobil kecil untuk mengangkut kayu dari lokasi bandsaw ke tempat parkir fuso.

“Posisi mobil ini bukan lagi pengangkutan. Mobil ini belum bergerak kemana-mana setelah diisi kayu. Para pengemudi ini tidak berani jalan karena mereka belum mendapatkan dokumen,” urainya.

Alasan kedua menurut Jemmy, saat penangkapan polisi tidak menunjukan Surat Perintah Penangkapan (SPP). Hal itu dinilai bertentangan dengan pasal 18 Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Dalam Pasal 18 KUHP itu menjelaskan bahwa pada saat penangkapan petugas kepolisian memperlihatkan surat tugas, identitas dan surat perintah penangkapan kepada tersangka. Kemudian surat penahanan itu harus segera disampaikan ke pihak keluarga masing-masing. Ketika penangkapan tidak menunjukan surat perintah penangkapan dan tidak segera memberikan tembusan kepada keluarga, maka penangkapan tidak sah,” terangnya.

Menurut Jemmy, polisi melangkahi ketentuan KUHAP meskipun dalam Pasal 18 KUHAP polisi tetap berwenang menangkap pelaku tanpa surat perintah. Dengan ketentuan bahwa polisi harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu terdekat.

“Tetapi ini kan surat penangkapan dan pemberitahuan kepada keluarga itu baru diberikan tanggal 31 Januari atau 3 hari setelah mereka di sel. Ini kan sudah offside,” ungkap FB.Jemmy.

Selain melanggar KUHAP, Jemmy mengklaim oknum polisi melanggar kode etik Polri yang diwajibkan menghormati hak dan martabat manusia sesuai prinsip hak asasi manusia.

“Termasuk menjunjung tinggi prinsip kesetaraan bagi setiap warga negara dihadapan hukum, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan serta menjaga kehormatan dalam berhubungan dengan masyarakat. Jadi disitu yang bertentangan dengan aturan yang dilakukan pihak polisi,” tegas Jemmy.

Sedangkan alasan terakhir adalah dia akan melaporkan ke Polda pihak lainnya yaitu pemilik kayu.

Kasus ilegal logging itu, menurut Jemmy tidak berdiri sendiri dan tidak dibebankan kepada dua supir yang hanya bertugas mengangkut kayu. Karena kayu tersebut adalah milik PT Sempekat Sentawar dengan pemilik izin adalah Yoseba Sono.

“Kalau mau mengusut mestinya pihak kepolisian menelusuri asal usul barang ini dari mana karena kasus ini tidak berdiri sendiri. Harus dipanggil pemilik kayu dan pemilik izinnya siapa. Tidak bisa pengemudi disangkakan. Sangat lucu peristiwa seperti ini,” sebut Jemmy.

“Tidak menutup kemungkinan dalam satu dua hari saya juga akan melaporkan pemilik kayu. Supaya bertanggungjawab terkait dengan dokumen yang mereka keluarkan. Kemungkinan juga kita akan lakukan praperadilan,” sebut Jemmy yang juga mengaku akan melakukan Praperadilan terhadap anggota Unit Tipidter Polres Kubar.

“Tetapi untuk sementara ini kita laporkan ke Propam. Dan kita tetap mengedepankan asas praduga tidak bersalah. Kita juga tidak mau menggiring hal-hal yang diluar dari itu,” pungkas Jemmy.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Kubar Iptu Yohanes Bonar Adiguna saat ditemui wartawan Investigasi Bhayangkara Indonesia (IBI) menjelaskan, kedua pelaku ditangkap unit Tipidter saat mengangkut kayu olahan menggunakan dua mobil Fuso di simpang tiga Muara Kampung Kelian kecamatan Damai, pada 29 Januari lalu.

Kejadiannya, ketika petugas tengah melakukan patroli Tipidter dan menemukan dua mobil truk fuso bermuatan kayu blambangan jenis meranti dan bengkirai.

Saat diperiksa petugas, O dan H supir truk fuso tidak bisa menunjukan surat-surat resmi / dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan.

 “Pada saat anggota kita cek ternyata memang benar, kedua truk tersebut tidak memiliki dokumen,” ujar Kasat Reskrim didampingi Kanit Tipidter Ipda Satria Bimantara Burham di ruang Restorasi Justice Satreskrim Polres Kubar. Jumat (18/2/2022)

Polisi langsung membawa 2 sopir dan 2 kernet beserta 2 truk Fuso dengan muatan sekitar 28 kubik ke kantor Polres Kubar.

Kasat Reskrim Iptu Yohanes Bonar menegaskan, penanganan perkara ilegal logging itu sudah sesuai dengan aturan serta Standar Operasional dan Prosedur (SOP) yang berlaku. Sebagaimana tercantum dalam pasal 18 Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Menurut kami itu sudah sesuai dengan SOP. Karena memang sudah diatur dalam KUHAP untuk kasus yang tertangkap tangan kita memperlihatkan surat perintah penangkapan.” ujarnya.

Bonar menegaskan idealnya harus ada dokumen dulu baru kayu boleh dibawa keluar dari lokasi bandsaw. Tetapi pada kasus ini kedua kendaraan pengangkut kayu tersebut sudah keluar jauh dari lokasi bandsaw tanpa mengantongi surat izin resmi.

“Pada saat kita temukan memang barang bukti sudah dalam mobil dan jauh dari lokasi muatan. Kita tanyakan memang tidak ada dokumen sama sekali,” ungkapnya.

Terkait surat penangkapan dan pemberitahuan kepada keluarga

“Surat pemberitahuan penangkapan dan penahanan sudah ditembuskan sejak 29 Januari,” sebut Kasatreskrim.

Sehubungan dengan dua anggota Satreskrim Polres Kubar yang diadukan ke Propam Polda Kaltim  Karena diduga melanggar SOP, kode etik maupun ketentuan penangkapan sebagaimana diatur dalam KUHAP.
Polres Kubar tetap menghargai langkah hukum yang ditempuh pihak tersangka. Namun demikian Iptu Bonar memastikan siap menjawab pengaduan tersebut di Propam Polda.

“Memang itu menjadi hak dari pihak lain apabila merasa tidak sesuai dengan SOP. Namun kita akan jawab juga melalui Propam kalau sudah melakukan pemeriksaan disini, kita akan menyampaikan apa yang kita lakukan,” tegasnya.

IPDA Satria Bimantara Burham
 Unit Tipidter mengaku masih terus melakukan pengembangan kasus ilegal logging tersebut.

Dari hasil pengembangan sementara, diketahui pelaku berinisial H sudah dua kali melakukan pengangkutan kayu olahan dengan menggunakan truk fuso yang sama.

Dan untuk kayu olahan yang diangkut menurut keterangan kedua tersangka akan di bawa ke Pulau Jawa tepatnya di Kota Surabaya Provinsi Jawa Timur.

Adapun barang bukti yang disita antara lain satu unit mobil fuso merek Hino warna putih dengan Nomor Polisi B.9821 UYT dan satu unit Fuso merek Hino wana Hijau dengan Nomor Polisi BE 9490 CO.

Kemudian buku Kir, kunci kontak serta 28 kubik kayu olahan jenis Meranti dan Bengkirai.

Sedangkan atas kejadian tersebut Negara dirugikan sebesar Rp 60 juta.

Kedua pelaku disangkakan melanggar Pasal 88 ayat (1) huruf (a) UU RI No.18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun serta denda paling sedikit Rp 500 juta hingga Rp 2,5 miliar.

Ditanya sudah sejauh mana perkembangan penanganan kasus tersebut Kasat Reskrim Yohanes Bonar mengaku: 

“Sampai sekarang kasus ini sudah tahap satu, tinggal menunggu petunjuk dari Jaksa,” katanya.

(IBI-Paul)