Tiakur, investigasibhayangkaraindonesia- Bupati Maluku Barat Daya (MBD), Benyamin Th. Noach bersama Wakil Bupati MBD, Agustinus L. Kilikily dan Forkopimda MBD menghadiri Upacara Pembukaan Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten MBD, bertempat di Aula Penginapan Tiakur Beach, Kamis (31/07/2025).
Dalam sambutannya, Bupati Noach mengatakan, terdapat ribuan siswa jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten MBD tapi hanya 29 orang yang terpilih sekaligus menjadi pemuda-pemudi terbaik saat ini, menjadi harapan bangsa dan menjadi sebuah kehormatan besar, maka laksanakanlah tugas ini sebaik mungkin, displin dan penuh dedikasi.
“Bangsa ini dimasa lampau berjuang dengan darah dan air mata mewujudkan kemerdekaan Indonesia, yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Proklamasi, 17 Agustus tahun berjalan. Ini bukan seremoni biasa namun menjadi hari dimana semua orang mengenang sulitnya bangsa ini berjuang keluar dari penjajahan,” tegas Noach.
Ia menjelaskan, dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, jutaan orang mati hanya untuk dapat mengibarkan bendera merah putih maka semua masyarakat harus menaikan puji dan syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan yang diraih.
“Kemerdekaan itu sangat penting, karena kalau itu tidak ada maka kita orang pribumi tidak pernah jadi bupati, dandim dan kepala dinas disini bahkan kita semua tidak bersekolah tinggi seperti ini,” jelasnya.
Ia mengingatkan, peserta Paskibraka akan dilatih, diberikan pelajaran tentang perjuangan bangsa, tujuannya untuk menghasilkan generasi muda masa depan bangsa yang tangguh, kuat, berdisiplin, bertakwa kepada Tuhan dan selalu mengabdikan diri hanya untuk Indonesia Raya.
“Apabila saudara ragu mengikuti pelatihan ini, atau ragu menjadi penerus bangsa ini, sebaiknya mengundurkan diri. Kita sedang memasuki masa-masa persaingan yang luar biasa besar dan ketat, masa dimana teknologi menentukan segala arah,” ungkapnya.
Ia mengatakan, dengan perkembangan teknologi saat ini, batas-batas wilayah hampir tidak kelihatan, orang bisa mempengaruhi, menginfiltrasi ideologi bangsa, bisa lewat media sosial baik facebook, youtube dan lainnya yang tanpa sadar telah dicuci otaknya untuk tidak lagi mencintai bangsa maupun Pancasila, maka harus hati-hati betul.
Noach menjelaskan, era digital menghadirkan tantangan baru dalam menjaga rasa cinta tanah air. Oleh karena itu, perlunya menanamkan rasa cinta tanah air sebagai wujud bela negara kepada generasi muda.
“Kami yang sudah tua ini akan istirahat maupun pensiun dan kalianlah yang akan meneruskan perjuangan ini. Kemana negara ini dibawa kalau tidak ditanamkan rasa cinta tanah air, cinta Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Pesan ini harus disampaikan berulang-ulang, karena kita kadang terbuai dengan kesenangan yang dinikmati saat ini dan kita lupa yang dinikmati adalah hasil perjuangan leluhur bangsa ini,” tegasnya.
Ia berharap, sebagai generasi bangsa harus dapat menjadi menjadi benteng ideologi Pancasila di tengah gempuran teknologi yang dapat menggerus nilai-nilai kebangsaan dan setiap pengetahuan yang diterima dapat dijadikan suluh dan dasar dalam melangkah menapaki masa depan menjadi generasi penerus bangsa.









