Investigasibhayangkara.com||
Rabu, 8 April 2026
Meulaboh — Drama mencekam di tengah ganasnya arus Samudra Hindia nyaris merenggut keselamatan Dua Orang Nelayan tradisional Asal kabupaten Aceh Barat, Selasa malam (7/4/2026).

Satu Unit boat Tradisional berukuran sekitar 2 GT dilaporkan hampir terseret ke laut lepas setelah mesin mendadak mati di tengah perairan.
Boat Tradisional Milik warga Desa Rundeng yang juga beraktivitas sebagai Nelayan di Desa Suak Indrapuri itu dikemudikan oleh Tgk Hayadi alias Wak Yadi (68) dan Safriadi (36), warga Desa Drien Rampak.
Keduanya berangkat melaut sekitar pukul 17.00 WIB dari perairan Desa Suak Indrapuri menuju kawasan Batu Putih untuk memancing ikan.
Namun nahas, saat hendak kembali ke daratan, mesin penggerak 13 PK merek Honda yang digunakan tiba-tiba mengalami gangguan dan tidak dapat dihidupkan.
Situasi berubah menjadi darurat ketika angin timur bertiup kencang, mendorong boat tanpa kendali semakin jauh ke tengah laut.
“Mesin tidak hidup, sementara angin sangat kencang. Kami hampir terbawa arus ke tengah laut,” ungkap Safriadi dengan nada masih trauma.
Di tengah kondisi gelap dan gelombang yang terus mengganas, keduanya tak punya pilihan selain mengandalkan tenaga sendiri.
Dengan peralatan seadanya, mereka mendayung perlahan melawan arus selama hampir tiga jam, mempertaruhkan tenaga dan keselamatan demi mencapai daratan.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil.
Boat Nelayan berhasil mendekati bibir pantai Batu Putih di wilayah Desa Suak Ribe.

Sejumlah warga yang berada di sebuah kafe melihat kondisi darurat tersebut dan segera memberikan pertolongan pertama.
Proses evakuasi kemudian diperkuat oleh personel Polairud Polres Aceh Barat, Bripka Dedi Dj, bersama Tim Nelayan Desa Suak Indrapuri dan Panglima Lhok Desa Suak Indrapuri yang turut turun langsung hadir ke lokasi kejadian.
Beruntung Dan Alhamdulillah Nya, tidak ada korban jiwa dalam insiden Musibah tersebut.
Namun, peristiwa tersebut menjadi peringatan keras bagi para Nelayan boat tradisional agar lebih waspada serta berhati-hati terhadap perubahan cuaca Ekstrem serta memastikan kondisi mesin dalam keadaan prima sebelum melaut, terutama pada malam hari, ujar Indra panglima Laot Lhok.
Insiden ini kembali menegaskan bahwa laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga medan penuh risiko yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman mematikan bagi siapa saja yang lengah, ( Red).
Redaksi Liputan :
(INDRA KIRANA)
#Tim Media investigasi bhayangkara Aceh









