Minggu, 27 Juli 2025
Investigasibhayangkara.com|| Nagan Raya – Rumah Sakit Sultan Iskandar Muda (RS SIM) Kabupaten Nagan Raya tengah menghadapi tekanan finansial serius, dengan beban hutang yang mencapai Rp26 miliar. Isu pergantian Direktur RS SIM pun semakin mencuat di tengah masyarakat.
Direktur RS SIM, dr. Dedi Apriadi, M.K.M., dalam keterangannya kepada awak media pada Minggu, 27 Juli 2025, menjelaskan bahwa hutang rumah sakit sebelumnya mencapai Rp33 miliar. Namun setelah dilakukan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Desember 2024, pihaknya berhasil memangkas beban hutang hingga Rp7 miliar dalam waktu satu tahun.
“Dalam setahun kami mampu menutupi hutang sebesar Rp7 miliar,” ungkap dr. Dedi.
Tak hanya itu, Dedi juga menyebutkan bahwa pihaknya telah berhasil merevisi Kerja Sama Operasi (KSO) terkait perbaikan unit mesin hemodialisa (alat cuci darah) yang sebelumnya tidak berfungsi.
“Kami bekerja keras untuk memperbaiki kondisi rumah sakit ini sedikit demi sedikit,” tambahnya.
Namun, di tengah upaya perbaikan manajemen, muncul isu bahwa jabatan Direktur RS SIM akan segera diganti. Isu ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) dan masyarakat, terutama di warung-warung kopi yang menjadi pusat diskusi informal.
Isu pergantian direktur ini dikaitkan dengan dinamika politik daerah pasca-pemilu, menyusul terpilihnya pasangan TRK – Sayang sebagai pemimpin baru Kabupaten Nagan Raya.
Seorang tokoh masyarakat mengungkapkan harapannya agar kebijakan mutasi jabatan tidak seperti masa lalu. “Kami berharap pemerintahan baru ini membawa perubahan yang lebih baik, bukan hanya sekadar pergantian posisi,” ujarnya.
Kondisi RS SIM sempat mengalami penurunan tajam di masa lalu, ditandai dengan buruknya pelayanan pasien, minimnya obat dan alat medis, serta masalah kebersihan lingkungan rumah sakit. Banyak pihak menilai hal itu disebabkan oleh penunjukan pimpinan rumah sakit yang tidak sejalan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat lokal.
Masyarakat menilai bahwa Direktur RS SIM harus memiliki kapasitas manajerial dan tanggung jawab moral yang tinggi terhadap pelayanan publik, bukan semata menjadikan rumah sakit sebagai ladang bisnis.
Kini, publik berharap pemerintah daerah memberi perhatian serius terhadap perbaikan layanan RS SIM agar masyarakat Nagan Raya dapat menikmati pelayanan kesehatan yang lebih layak dan bermartabat.***









