Surakarta – Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko memberikan apresiasi terhadap pola pembinaan santri yang diterapkan Pondok Pesantren (Ponpes) Budi Utomo Surakarta dalam mencegah tindakan perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, pola pencegahan bullying yang diterapkan pesantren dengan sekitar 2.000 santri tersebut patut mendapat perhatian. Pasalnya, upaya pencegahan tidak hanya dilakukan melalui aturan dan larangan, tetapi juga dengan menanamkan nilai persaudaraan, saling menghormati, serta kepedulian antarsantri dalam kehidupan sehari-hari.
AKBP Condro Sasongko menilai, pendekatan yang dilakukan Ponpes Budi Utomo merupakan salah satu praktik positif dalam membangun karakter peserta didik sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan harmonis.
Bahkan, Kapolresta mengaku tertarik untuk mempelajari lebih jauh pola pembinaan tersebut agar nantinya dapat menjadi referensi bagi sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya di Kota Solo.
“Ini salah satu contohnya pondok pesantren yang saya lihat tadi ada anti-bullying. Seperti apa? Nanti kita bisa sampaikan ke yang lain biar hal ini tidak terjadi,” ujar AKBP Condro.
Kapolresta memandang bahwa pencegahan bullying membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak cukup hanya dengan memberikan larangan, tetapi juga harus dibarengi pembentukan karakter, pengawasan yang berkesinambungan, serta pembiasaan perilaku positif di antara para pelajar.
Karena itu, dirinya mengapresiasi langkah Ponpes Budi Utomo yang telah membangun budaya saling menghargai dan membantu sesama santri sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hal lain yang mendapat perhatian adalah sistem pengawasan dan evaluasi yang dilakukan secara rutin sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pagi dan malam.
Pada pagi hari, pengasuh atau pamong melakukan evaluasi terhadap aktivitas santri sepanjang malam. Sedangkan pada malam hari, evaluasi dilakukan untuk mengetahui berbagai kegiatan maupun persoalan yang terjadi sejak pagi hingga sore.
Melalui mekanisme tersebut, setiap permasalahan antarsantri dapat segera diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Pola pembinaan inilah yang diapresiasi AKBP Condro Sasongko. Ia melihat adanya nilai positif yang dapat dipelajari dan dibagikan kepada lembaga pendidikan lainnya, khususnya dalam upaya mencegah kekerasan maupun perundungan di kalangan pelajar.
Selain memberikan apresiasi, Polresta Surakarta juga membuka peluang kerja sama dengan Ponpes Budi Utomo dalam memberikan edukasi kepada para santri, mulai dari keamanan dan ketertiban masyarakat, keselamatan berlalu lintas, hingga bahaya penyalahgunaan narkoba dan minuman keras.
Rencana kolaborasi tersebut disambut baik oleh KH M Thoyibun selaku Pimpinan Ponpes Budi Utomo kota Surakarta yang menyatakan kesiapan pihak pesantren untuk menerima pembinaan dan edukasi dari kepolisian.
Bagi Kapolresta Surakarta, pola pencegahan bullying yang diterapkan Ponpes Budi Utomo menjadi contoh bahwa menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tidak semata-mata bergantung pada ketatnya aturan, melainkan juga pada keberhasilan membangun karakter dan rasa persaudaraan di antara peserta didik.
Melalui praktik baik tersebut, AKBP Condro Sasongko berharap pola pembinaan Ponpes Budi Utomo dapat menjadi inspirasi bagi sekolah dan pesantren lainnya di Kota Solo dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta terbebas dari tindakan perundungan.







