investigasibhayangkara.com
Kamis, 25 Desember 2025
Meulaboh – Lembaga Hukum Adat Laot, Panglima Laot Kabupaten Aceh Barat, secara tegas mengimbau seluruh nelayan agar tidak melaut pada Jumat, 26 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan 21 tahun musibah Tsunami Aceh.
Larangan melaut tersebut berlaku sejak terbit matahari hingga terbenam matahari, sebagai bentuk penghormatan, doa, dan refleksi atas tragedi kemanusiaan yang menelan ratusan ribu korban jiwa pada 26 Desember 2004 silam.
Himbauan ini bukan keputusan sepihak, melainkan telah tertuang secara resmi dalam Pokok-Pokok Pikiran Hasil Musyawarah Panglima Laot se-Aceh yang dilaksanakan pada 20–21 Juli 2017 di Hotel Regina, Banda Aceh.

Dalam keputusan tersebut, Pasal 34 huruf F secara jelas menyebutkan bahwa nelayan pantang melaut pada hari peringatan musibah tsunami, terhitung sejak terbenam matahari 25 Desember hingga terbenam matahari 26 Desember (1 hari penuh).
Panglima Laot Kabupaten Aceh Barat menegaskan, meskipun himbauan telah disampaikan setiap tahun, masih ditemukan nelayan yang mengabaikan ketentuan adat tersebut. Oleh karena itu, Panglima Laot Kabupaten bersama Panglima Laot Lhok akan mengambil tindakan tegas sesuai ketentuan adat dan kesepakatan yang berlaku.
Salah seorang nelayan Aceh Barat sekaligus korban tsunami, Desri, menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan tersebut.
Ia meminta agar tidak ada toleransi bagi pelanggar.
“Saya sangat mendukung kesepakatan ini. Saya juga mengingatkan Panglima Laot Lhok, jika ada nelayan yang melanggar, jangan segan-segan mengambil tindakan sesuai kesalahan yang dibuat,” tegas Desri.
Sementara itu, Panglima Laot Kabupaten Aceh Barat Amiruddin menyampaikan bahwa pihaknya telah mewanti-wanti seluruh Panglima Laot Lhok agar himbauan ini segera disampaikan dan dipatuhi oleh seluruh nelayan di wilayah kerja masing-masing.
Apabila ditemukan pelanggaran, proses penyelesaiannya diserahkan sepenuhnya kepada Panglima Laot Lhok setempat, untuk diselesaikan secara musyawarah dan mufakat sesuai adat istiadat yang berlaku di masing-masing daerah.
Panglima Laot berharap, momentum peringatan 21 tahun tsunami ini menjadi pengingat kolektif, sekaligus wujud ketaatan nelayan terhadap hukum adat laot yang selama ini menjadi pilar kehidupan masyarakat pesisir Aceh.(***)
Penulis : INDRA KIRANA
Editor : T. ADE PRATAMA









