investigasibhayangkara.com||
kamis, 25 September 2025
Aceh Barat – Isak tangis siswa pecah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Paya Baro, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Mereka histeris setelah mendengar kabar bahwa sekolah yang telah puluhan tahun berdiri itu masuk daftar rencana penutupan oleh Dinas Pendidikan setempat.
Iyusmidar Arif, salah seorang guru, tak mampu menahan kesedihannya. “Sekolah ini sudah berdiri sejak lama, bahkan sebelum konflik Aceh. Dari dulu selalu ada murid dan banyak yang sudah lulus dari sini. Kenapa sekarang malah mau ditutup, ini aneh,” ujarnya kepada Awak Media , Rabu (24/9/2025).
SDN Paya Baro saat ini hanya memiliki 24 siswa dengan sebaran jumlah per kelas yang tidak memenuhi standar minimal enam siswa sesuai ketentuan Permendikbud. Meski begitu, Iyusmidar menilai langkah penutupan tidak bijak.
“Tahun ini justru jumlah siswa kelas I meningkat menjadi delapan orang. Ketika ada perubahan positif, pemerintah bukan memperbaiki tapi malah ingin menutup,” keluhnya.
Jika sekolah benar-benar ditutup, anak-anak Paya Baro terancam putus sekolah. Pasalnya, jarak ke sekolah terdekat mencapai sekitar lima kilometer dengan kondisi jalan berbatu dan belum beraspal.
“Selama ini saja mereka harus jalan kaki, apalagi kalau ditambah jarak jauh. Ini bisa menambah angka putus sekolah,” tegasnya.
Keluhan juga datang dari para orangtua siswa, terutama saat anak-anak harus menumpang sekolah lain untuk mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).
SDN Paya Baro tidak memiliki jaringan internet, sehingga peserta didik harus pergi keluar kampung. “Ada orangtua bilang, baru dua hari ANBK saja sudah terasa capek, harus bolak-balik menunggu anak-anak selesai,” tutur Iyusmidar.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar. Di satu sisi, pemerintah pusat terus mendorong pemerataan akses pendidikan.
Namun di sisi lain, kebijakan penutupan sekolah di daerah pedalaman justru berpotensi menutup kesempatan anak-anak desa untuk mengenyam pendidikan dasar.









