
INVESTIGASI BHAYANGKARA INDONESIA.COM. PALU – Matahari di atas Bumi Tadulako seolah menjadi saksi bisu atas membuncahnya amarah yang selama ini terpendam. Hari Rabu yang bersejarah, 8 April 2026, Kota Palu tidak sedang bersantai. Di bawah kibaran bendera kuning dan putih yang menantang langit, ratusan jiwa bersatu dalam satu derap langkah: Menolak Dominasi BUMN Karya.
Aksi ini bukan hanya barisan massa, melainkan sebuah manifesto perlawanan dari Serikat Pekerja Hukum Progresif (SPHP) bersama koalisi rakyat mulai dari petani Sigi hingga aktivis perempuan. Mereka berdiri tegak, menyuarakan jeritan pengusaha lokal yang kian terhimpit oleh raksasa-raksasa korporasi negara.
Dari atas mobil komando, suara lantang Moh. Raslin membelah kerumunan. Orasinya tajam, menusuk langsung ke jantung persoalan. Ia menegaskan bahwa proyek-proyek APBN yang dikelola BUMN Karya di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya di bawah naungan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III (BWSS III), ditengarai sebagai “proyek titipan” yang sarat akan aroma nepotisme dan kepentingan pribadi para petinggi di Jakarta.
“Tanah Kaili bukanlah tanah tak bertuan yang bisa dijadikan ajang kongkalikong! Jangan rusak ekosistem pengusaha kami demi syahwat jabatan para Komisaris Utama dan pejabat pusat!” teriak sang koordinator, disambut kepalan tangan yang mengudara dari massa aksi.
Ada enam tuntutan suci yang mereka usung. Intinya satu: Kembalikan kedaulatan ekonomi daerah. Massa menilai, alih-alih membawa kemajuan, kehadiran BUMN Karya justru dianggap merusak tatanan pengusaha lokal dan mengabaikan nilai-nilai lingkungan demi keuntungan segelintir elite, termasuk menyentil keterlibatan nama besar di jajaran Kementerian PU.
Gelombang perlawanan ini dipastikan tidak akan berhenti di gerbang Balai Sungai. Semangat yang berkobar di Jalan Yojokodi ini dijanjikan akan merambat hingga ke jantung pemerintahan di Jakarta.
“Minggu depan, Kementerian PU dan KPK akan melihat wajah-wajah kami dari Sulteng,” tegas mereka dalam maklumatnya. Rakyat Sulawesi Tengah kini tidak lagi bicara dalam bisikan; mereka berteriak menuntut keadilan bagi tanah kelahirannya.
Pewarta: Faisal



