Investigasi Bhayangkara. com — Kota Banjar — Sebagai salah satu Program Nasional yang di canangkan oleh Presiden Republik Indonesia ke 8 , PRABOWO SUBIANTO . Program MBG ( Makan Bergizi Gratis ) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM, menurunkan angka stunting serta memperkuat ketahanan Gizi Nasional . Mencakup seluruh wilayah Indonesia dengan sasaran anak anak sekolah, balita, ibu hamil dan menyusui.
Sebagai dasar hukum dari program MBG tersebut , Pepres nomor 83 tahun 2024 menjadi payung hukum utama pembentukan BGN ( Badan Gizi Nasional ) yang mengelola program MBG , mengatur tata kelola, tugas dan wewenang BGN. Serta UU nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan, ” Memberikan landasan umum untuk peningkatan kualitas Gizi masyarakat “.
Antusias dan harapan masyarakat begitu tinggi terhadap Program Nasional tersebut terutama dalam segi peningkatan Ekonomi dan tercipta nya lapangan pekerjaan di masing masing daerah .
Namun dalam perkembangan nya, Program MBG banyak menemui kendala, bahkan insiden. Tahun 2025 lalu banyak di temukan menu MBG tidak layak konsumsi atau basi di terima oleh penerima manfaat, serta dugaan keracunan menu MBG .

Tim Investigasi Bhayangkara. com menerima informasi adanya banyak keluhan bahkan protes dari penerima manfaat program MBG yang di terima dari SPPG ( Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi ) Langensari – Rejasari .(15/01/2026)
” Untuk 2 hari ke depan hari Jum’at – Sabtu anak saya menerima 2 kotak susu ukuran 125 ml, 1 buah pir dan roti rasa sebungkus kecil, saya ngga tau itu harga nya berapa, karena ngga pernah sekalipun di beritahu “, ujar AK( 45th) yang anak nya bersekolah PAUD di wilayah Kelurahan Bojong Kantong ,Kota Banjar .
Ibu AK , menerima Program MBG porsi kecil , di karenakan usia anak yang masih mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini .
” Iya pak , kami kadang ingin tau juga , tentang nilai dari menu MBG tersebut , masa untuk dua hari, kami cuma menerima dua kotak kecil susu ultra , satu buah pir , satu roti di bungkus . Tiap nanya ke petugas yang nganter selalu jawab tidak tau “. Seloroh IN (27th) yang juga menerima menu MBG porsi kecil , di karenakan sang anak berstatus peserta didik PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ) .
Tim Investigasi Bhayangkara. com juga mendapat informasi mengenai menu MBG yang berasal dari SPPG Langensari – Rejasari , Kota Banjar .
” masa kami menerima pisang mentah ( masih hijau ) ya mana bisa di makan “. imbuh ibu satu anak ini yang menerima porsi kecil untuk Balita .
Menu Porsi kecil tersebut berisikan satu cup bubur kacang ijo, dua kotak susu ultra 125ml, satu buah jeruk dan dua buah pisang Lampung ( muli ) .
Menyambangi ” Dapur MBG ” tersebut yang berlokasi di Desa Rejasari , Kecamatan Langensari , Kota Banjar . Tim di temui oleh YT selaku Ahli Gizi di SPPG Langensari – Rejasari .
” Iya betul , itu porsi yang kami salurkan untuk hari ini , Kamis 15 January 2026 , porsi besar dan kecil untuk Balita , ibu hamil dan menyusui . atau yang biasa kami sebut B3 . Untuk Siswa juga ada level porsi besar/kecil nya juga “.
Menyinggung marak nya keluhan dari penerima manfaat mengenai menu MBG yang di terima hari ini , YT yang pada saat memberikan konfirmasi nya di dampingi oleh NR selaku ASLAP ( Asisten Lapangan ).
” Untuk porsi kecil di menu Siswa , menurut kami itu sudah sesuai , dua kotak susu ultra dengan kisaran harga Rp 6000 lebih , untuk buah pir nya juga harga satu butir nya Rp 6000 , karena buah pir nya grade A , harga di pasaran satu kilo buah pir “Century” itu paling murah Rp 25.000 – 40.000 , dengan isi tiga hingga empat butir per kilo nya , untuk roti nya itu harga Rp 4000 per bungkus nya , porsi itu untuk dua hari ke depan yaitu jumat dan sabtu “, pungkas nya .
NR selaku ASLAP di SPPG Langensari – Rejasari juga ikut memberikan penjelasan terkait tersalurkan nya pisang mentah yang menjadi keluhan penerima manfaat .
” Ketersediaan bahan dari mitra suplayer , terkadang menjadi permasalahan juga, tapi untuk pisang yang di bilang mentah itu , kan bisa di konsumsi atau di makan nya untuk esok hari lagi, di karenakan tidak mungkin ada satu pisang matang semua dalam satu tandan “.
dalih nya ketika Tim Awak Media mempertanyakan tentang pisang mentah yang seolah “di paksakan” di salurkan ke penerima manfaat dari Program MBG.
” Bukan di paksakan , namun itu kan di menu B3 , pisang nya ada dua, yang satu udah matang ,yang satu masih ijo , jadi pisang yang udah matang bisa di konsumsi langsung hari ini , sementara pisang yang masih ijo , kan esok hari atau lusa juga pasti udah matang dan bisa di konsumsi ” , pungkas NR .
SPPI di SPPG Langensari – Rejasari , Sdr. Irfn .
ketika di pinta klarifikasi nya oleh Tim Investigasi Bhayangkara. com via pesan singkat Whatsapp , terkait menu MBG yang menjadi keluhan penerima manfaat hanya memberi keterangan pendek .
” iya , keluhan menu hari ini lebih ke buah nya , pak . pisang nya masih ” gumading ( mentah ) ” .
Program MBG yang menyerap anggaran 1 Trilyun lebih dalam setiap hari nya ini , memperlihatkan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam rangka mencerdaskan Anak Bangsa , jangan sampai di cederai oleh kepentingan pribadi atau ingin untung cepat dan untung besar semata .
” Iya saya juga menerima informasi itu , penilaian saya sih mbok yo kalau masih mentah ,jangan di paksakan di salurkan , kan mubazir . pasti ngga di makan lah karena mentah , katanya bisa matang dalam satu atau dua hari ke depan , kita pakai logika aja, nyimpan pisang satu untuk nunggu mateng nya dalam satu atau dua hari ke depan , ya kalo ngga di makan kecoa , semut pasti di makan tikus toh jika sudah matang , karena bisa jadi si penerima manfaat lupa kalau dia nyimpan pisang satu yang mentah itu tadi ” . ucap AG ( 58th ) pria yang di kenal sebagai tokoh masyarakat di Langensari, Kota Banjar .
” inti nya , jangan sampai masyarakat kecewa , jangan sampai Program ini terlukai oleh niatan niatan pengen untung gede, pengen cepet kaya . ini Program luar biasa lho dari Pak Prabowo Subianto . Harus amanah SPPG itu , sampaikan apa yang telah di amanatkan oleh Pak Prabowo ke masyarakat , jika di suruh sampaikan Rp 10.000 ya sampaikan semua , jika di suruh sampaikan Rp. 8000 ya sampaikan semua , jangan di utak atik , jangan di akal – akalin. Dapur itu kan tidak mungkin beli roti atau buah buahan dengan harga satuan atau per biji , tidak mungkin kan ? , masa begitu sudah berada di ” ompreng ” terus di hitung satuan , kan porsi Rp 15.000 dari pemerintah itu semua masyarakat udah pada tau , Rp 2000 untuk apa , lalu Rp 3000 untuk apa , lalu sisa nya Rp 10.000 untuk apa , jelas toh , masyarakat kita sekarang lebih melek lho , jangan di anggap bodoh terus ” . tutup pria yang keseharian nya berprofesi sebagai pedagang ini .
Tidak di pungkiri memang , Program Nasional apik ini, tidak akan terlepas dari lingkaran bisnis juga , menggeliatkan semangat UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) untuk lebih hidup dan berkembang di masing masing SPPG itu berdiri serta membuka peluang lapangan pekerjaan .
Namun masyarakat juga memiliki penilaian tersendiri terkait hal itu .
(@ditik..)



