Aksi Nyata Dalam Rangka Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), PT Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk

SUM-UT117 Dilihat

INVESTIGASI BHAYANGKARA INDONESIA Sebagai aksi nyata dalam rangka pencegahan dan percepatan penurunan Stunting di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), PT Toba Pulp Lestari (TPL), Tbk, akan segera bangun sarana MCK (Mandi, Cuci, Kakus-red) komunal bagi masyarakat.

Aksi nyata TPL menurunkan angka Stunting di Kabupaten Tapsel dengan membangun MCK komunal ini di 3 titik di Desa Sanggapati, Kecamatan Angkola Timur. Bagi TPL, perusahaan harus hadir berkontribusi sukseskan program Nasional.

“Salah satu program Nasional yang ingin kami dukung adalah, percepatan penurunan Stunting. Khususnya di Kabupaten Tapsel,” ujar Yessy Winda Panggabean, selaku CD/CSR Officer Spesialis Pendidikan dan Kesehatan TP TPL, saat sosialisasi bersama warga di Kantor Desa Sanggapati, pada Jumat, 03 Mei 2024 lalu.

Lebih jauh, Yessi (Rabu, 06/05/2024) pagi mengungkapkan alasan TPL berfokus di percepatan penurunan Stunting. Yakni, dalam rangka memberikan dampak untuk menyiapkan SDM yang sehat, baik secara jasmani maupun rohani ke masyarakat.

Selain di bidang kesehatan, TPL juga berupaya mengintervensi peningkatan kualitas pendidikan di masyarakat. Karena, persoalan kesehatan maupun pendidikan adalah satu kesatuan yang saling berkaitan.

Dengan pembekalan pendidikan yang baik, harapannya masyarakat bisa menerapkan pola hidup yang sehat. Bahkan, juga berkolaborasi dengan bidang lain semisal, ekonomi hingga infrastruktur.

Sehingga, dari berbagai bidang tersebut, TPL menilai perlu adanya dukungan ke masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Sebab, TPL menilai, tiga hal ini sangat berpengaruh dalam menghasilkan SDM yang berkelanjutan.

“Yang mana, ini sesuai dengan agenda besar Indonesia berkelanjutan di 2030 mendatang,” imbuh Yessi.

Dua Cara Penurunan Stunting

Sekaitan dengan bidang kesehatan, TPL memilih sektor dukungan ke Pemkab Tapsel dengan membantu upaya percepatan penurunan Stunting. Percepatan penurunan Stunting sendiri, ada dua cara. Yang pertama penanganan langsung ke anak.

“Dan yang kedua pencegahan. Dua hal ini kami anggap perlu, supaya anak-anak di Kabupaten Tapsel tidak ada yang terkena Stunting,” sebutnya.

Yessi memaparkan, ada banyak hal yang mempengaruhi seorang anak bisa terkena Stunting. Selain dari asupan gizi sejak dini, ada faktor lain yang menyebabkan anak terkena Stunting misalnya, terbiasa makan dengan tidak cuci tangan.

Menurutnya, ini termasuk pada pola hidup yang kurang sehat. Orangtua, seharusnya peduli akan hal ini. Agar, asupan makanan anak terhindar dari kuman. Ketika masuk ke dalam tubuh, kuman bisa menyebabkan penyakit.

Karena, dari banyaknya kasus, anak yang kurang asupan vitamin karena keadaan perekonomian yang kurang baik. Dari sini, muncul sebuah penyakit yakni, diare. Ini merupakan salah sartu dampak kebiasaan pola hidup yang tidak bersih yang turut mempengaruhi.

Sarana MCK Kurang Memadai

Di kehidupan pedesaaan misalnya, ucap Yessi, biasanya kurang memadai di bidang sarana MCK. Sehingga, masyarakat acap kali belum terbiasa melakukan pola hidup yang bersih dan sehat, dengan membuang kotoran atau feses secara sembarangan.

Ini juga merupakan sumber penyakit yang bisa menghambat tumbuh kembang seorang anak. Karena, ketika lalat misalnya, hinggap di kotoran manusia kemudian pergi ke makanan atau konsumsi lainnya dan masuk ke dalam tubuh tanpa sengaja, tentu akan menjadi sumber penyakig baru.

Hingga akhirnya terjadi penyakit yang namanya diare. Jika seorang anak terus menerus terkena diare, maka otomatis tubuh akan bekerja untuk memulihkan diri dari penyakit itu. Sehingga, tubuh tidak bisa bekerja fokus untuk bertumbuh, hingga kekhawatirannya menyebabkan anak menjadi Stunting.

“Maka, kami menganggap ini (pembangunan MCK komunal) ini perlu kami intervensi. Lebih baik kita mencegah, daripada mengobati,” tuturnya seraya berharap, pembangunan MCK komunal nanti berkolerasi dengan percepatan penurunan Stunting.

Bantuan Bibit Lele

Selain pembangunan MCK komunal, ia menyambung, TPL juga berencana memberikan bantuan ketahanan pangan berupa pemberian bantuan berupa, bibit lele. Agar, masyarakat bisa memeliharanya di kolam terpal.

Tahun lalu, kata dia, TPL sebenarnya telah memberikan bantuan ketahanan pangan ke beberapa KK, berupa telur. Namun pihaknya menganggap hal ini kurang efektif. Sebab, masyarakat hanya menerima saja, tanpa bisa menghasilkan sendiri. Kalau ikan lele, harapannya, selain bisa memenuhi asupan protein keluarga, sisanya masyarakat bisa menjualnya.

“Kalaupun tidak terjual, masyarakat bisa memelihara dan menyimpannya untuk bahan makanan sumber protein. Karena, pencegahan Stunting salah satunya adalah asupan protein yang baik bagi anak,” urai Yessi.

Pihaknya berencana memberikan bantuan kolam terpal berikut bibit lele ini di dua Kecamatan. Yakni, Angkola Timur dan Sipirok. Rencananya, pihaknya akan menyerahkan bantuan ini di Juni atau Juli 2024 ini.

“Karena, pengukuran keberhasilan program percepatan Stunting dalam rentang waktu per 6 bulan,” tandas Yessi.

Program “Padi Emas”

Sementara, Hema Butarbutar, selaku CD/CSR Officer Spesialis Pertanian TPL, menguraikan tekait program “Padi Emas” dengan sistem tanam jajar legowo. Inj, merupakan salah satu program unggulan TPL, yang harapannya dapat berdampak langsung ke masyarakat.

“Apalagi, mayoritas masyarakat di wilayah operasional TPL adalah petani, khususnya padi,” jelas Hema.

Sehingga, pihaknya hadir melakukan pembinaan guna meningkatkan pendapatan petani lewat program “Padi Emas” dengan sistem tanam jajar legowo. Ini juga merupakan bagian kontribusi nyata TPL ke masyarakat di bidang pertanian.

Jika petani yang telah mendapat pembinaan TPL memang benar-benar melaksanakan sistem jajar legowo, maka perusahaan akan memberikan bantuan berupa pupuk dan benih, guna menunjang pertumbuhan tanaman padi.

Kata Hema, penyerahan bantuan ini nanti akan libatkan Dinas Pertanian Tapsel, Kepala Desa Sanggapati, maupun penyuluh pertanian yang ada. Rencananya, penyerahan bantuan akan berlangsung pada Oktober mendatang.

Dalam sosialisasi itu, pihaknya mengaku memberi bantuan kepada 9 Kelompok Tani (Poktan) yang ada di Desa Sanggapati. Masing-masing Poktan, bisa mengajukan 5 nama petani. Dan kepada masing-masing petani tersebut, pihaknya akan memberikan bantuan dengan syarat memiliki luas lahan pertanian padi seluas 3 Rante atau 60×60 Meter.

Gandeng Srakeholder Terkait

Dalam hal ini, pihaknya tentu akan menggandeng stakeholder terkait, guna keberhasilan program tersebut. Program TPL ini merupakan yang perdana di Kabupaten Tapsel. Sebelum menyalurkan bantuan, pihaknya akan melakukan kerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara (Sumut).

Di mana, sebelum program ini berjalan di Oktober nanti, pihaknya akan menurunkan Tim dari BPTP Sumut ke Desa Sanggapati. Tujuannya untuk melakukan berbagai pengecekan. Misalnya, terkait PH dan kondisi tanah.

“Nah kemudian, biasanya Tim dari BPTP Sumut akan rekomendasikan ke kami jenis benih padi apa yang cocok. Kemudian berapa banyak pupuk yang diperlukan petani sesuai standar atau dosis yang tepat di Desa Sanggapati ini,” rincinya.

Pihaknya menegaskan, bahwa seluruh bantuan dari perusahaan ke masyarakat nanti, sifatnya gratis tanpa ada pungutan biaya apapun. Dan begitu juga setelah panen nanti, seluruh hasilnya masyarakat yang akan menikmatinya.

Alasan Pola Tanam Jajar Legowo

Adapun alasan TPL menginginkan petani di Desa Sanggapati, terapkan sistem tanam jajar legowo, karena di daerah lain sudah banyak yang berhasil dalam mengembangkan usaha taninya. Sistem tanam jajar legowo sendiri menurutnya, adalah pola bertanam yang berselang-seling antara 2 hingga 4 padi dan satu baris kosong.

Pola tanam seperti ini, terbukti efektif, meningkatkan hasil panen. Selain meningkatkan hasil panen, untuk hama seperti tikus, juga tidak terlalu banyak menyerang dengan sistem tanam seperti ini. Begitu juga dengan lubang tanam.

Pihaknya menyarankan petani maksimal menyemai 3 benih padi dalam satu lubang. Ia menyarankan, petani tidak lagi menyemai padi dengan meletakkan benih di satu lubang sesuka hati.

Sebab, selain tidak efisien, juga menimbulkan kerugian ekonomis bagi petani. Begitu juga dengan suplai pupuk. Suplai pupuk yang berlebihan atau over, justru merusak tanaman.

“Maka itulah tujuannya kami bekerja sama dengan BPTP Sumut guna memberikan hasil penelitian mereka terkait, seberapa banyak pupuk yang harus disemai petani di lahannya,” pungkas Hema menutup.

Tampak hadir dalam sosialisasi ini, Manager Corporate Communication TPL, Salomo Sitohang. CD Officer TPL, Jhony Sitohang. Dan, Community Development Coordinator TPL, Aya.

Kemudian, hadir juga Camat Angkola Timur, Cos Roady Siregar, SSos, MM. Kepala Desa Sanggapati, Sulaiman Sinaga. Ketua BPD Sanggapati, Hanafi Harahap. Serta, puluhan masyarakat peserta sosialisasi.